Saat "MALAM" datang kata sebagian orang “merupakan suasana yang indah dan romantis”. Dulu aku berpikir yang sama
dengan mereka, karena disaat senja mulaidatang aku dapat menikmati malam yang
indah dengan gemerlap sinar bintang, lengkap dengan cahaya sang dewi bulan.
Dahulu
aku selalu bersyukur kepada tuhan, karena tuhan telah menganugrahkan "MALAM" yang
indah untukku, bahkan terkadang aku tidak sabar menunggu MALAM datang.
Tetapi
"MALAM" yang dulu selalu aku nantikan kedatangannya kini berubah dan seolah
menjadi mimpi buruk, setidaknya bagiku saat ini. Rasa gelisah selalu aku
rasakan disaat matahari mulai padam, dan suasana mulai sunyi. Meskipun suasana
malam tidak pernah berubah, bulan dan bintang masih selalu setia memancarkan
cahayanya disaat "MALAM" mulai datang. Yang berbeda hanyalah tempat dan
suara-suara alam yang jarang sekali aku dengar di tempat sebelumnya aku berada.
Suara-suara itu selalu hadir disaat langit mulai gelap.
Tentu
kalian bertanya-tanya, ada apa dengan MALAMku saat ini, kenapa aku sekarang
tidak suka dengan “MALAM”..????
Sebenarnya
aku tidak pernah membenci ataupun menyalahkan “MALAM”, karena “MALAM” adalah
penyeimbang bagi siang. Hanya saja aku tidak suka dengan suasana “MALAM” di
tempat ini(AMFOANG TIMUR), tempat di mana aku berada saat ini.
Mungkin
menurut kalian aku seorang yang egois, atau bahkan tidak mensyukuri karunia
tuhan dan lain sebagainya. Tetapi, aku punya alasan sendiri kenapa aku tidak
suka dengan suasana “MALAM’ di tempat ini (AMFOANG TIMUR).
Ini
adalah cerita di mana aku dan teman-temanku ditugaskan untuk mendidik di
daerah, sebut saja “AMFOANG TIMUR”. Daerah perbatasan antara INDONESIA dan Timor Leste (Negara baru,
pecahan dari INDONESIA), menuju
kesana hanya membutuhkan jarak kurang lebih lima kilometer saja kami sudah bisa
masuk ke negara TL( kalau punya paspor).
Awalnya
aku pikir “MALAM” disini akan sama dengan “MALAM” ditempatku dulu berasal,
karena masih sama-sama berada dalam satu negara yang kita cintai dan banggakan INDONESIA.
Aku ulangi lagi INDONESIA! Negeri yang terkenal makmur dan kaya atau gemah
ripah loh jinawi. Mungkin sebagian dari kalian pernah mendengar kata seperti
berikut “TONGKAT KAYU DAN BATU JADI
TANAMAN”, ya kalian benar, itu adalah sepenggal kata dari sebuah lagu yang
menggambarkan betapa suburnya negeri kita INDONESIA. Awalnya aku percaya
dengan kata itu, tetapi ternyata aku salah, mungkin di tempat lain kata itu
benar, tetapi itu tidak berlaku disini “AMFOANG TIMUR”.
Aku tidak
pernah menyesal di tugaskan di “AMFOANG TIMUR”, justru aku bangga dan senang
bisa membaur serta berbagi ilmu dengan saudara-saudaraku yang hidup serba
kekurangan di negara yang kaya, INDONESIA. Tetapi, mereka memiliki
rasa NASIONALISME yang tinggi.
Langit
tidak boleh GELAP,ya kata-kata itu
selalu hadir disaat matahari mulai padam dan suara-suara alam mulai terdengar
memecah kesunyian “MALAM” yang gelap.
Teman..!!!!!
jujur aku sedih melihat perjuangan saudara-saudara kita yang hidup dalam
“KETERBATASAN”. Keterbatasan yang aku maksud adalah keterbatasan “FASILITAS”.
Suasana
disini sangat menyedihkan, saat “MALAM” datang desa yang memiliki cukup banyak
penghuni ini sunyi mencekam seperti tak berpenghuni, suasa “GELAP” selalu menghatui disaat “MALAM” datang, disini tidak
memiliki LISTRIK. Begitupun dengan fasilitas lainnya, bahkan di saat musim
HUJAN datang, masyarakan disini mulai gelisah, karena keterbatasan AKSES untuk
keluar, karena hampir semua jalan menuju tempat ini masih berupa jalan tanah,
dan yang menakutkan lagi di saat hujan datang mereka harus bertahan sampai
musim berganti, karena untuk mencapai ke tempat ini harus melewati puluhan
SUNGAI yang besar dan tidak memiliki jembatan penghubung, bahkan tidak jarang
nyawa jadi taruhannya.
Teman..!!!
Keadaan
seperti itulah yang membuat aku gelisah bila “LANGIT MULAI GELAP”. Aku kasian melihat saudara-saudara kita harus
belajar dalam ”KEGELAPAN”, hanya “LENTERA” dan kesunyian yang menjadi
saksi betapa malangnya nasib saudara-saudara kita yang tinggal di ujung
perbatasan “INDONESIA” negara “KAYA dan MAKMUR”, tetapi tidak bagi “MERAKA”
yang tinggal disini.
Teman….!!!!!
Dan aku
selalu berharap, “LANGIT akan selalu
TERANG, bukan GELAP...
By
Hendi Riswandi
Ali

Tidak ada komentar:
Posting Komentar