Pages

Jumat, 30 Desember 2011

Langit tidak boleh GELAP






Saat "MALAM" datang kata sebagian orang “merupakan suasana yang indah dan romantis”. Dulu aku berpikir yang sama dengan mereka, karena disaat senja mulaidatang aku dapat menikmati malam yang indah dengan gemerlap sinar bintang, lengkap dengan cahaya sang dewi bulan.

Dahulu aku selalu bersyukur kepada tuhan, karena tuhan telah menganugrahkan "MALAM" yang indah untukku, bahkan terkadang aku tidak sabar menunggu MALAM datang.
Tetapi "MALAM" yang dulu selalu aku nantikan kedatangannya kini berubah dan seolah menjadi mimpi buruk, setidaknya bagiku saat ini. Rasa gelisah selalu aku rasakan disaat matahari mulai padam, dan suasana mulai sunyi. Meskipun suasana malam tidak pernah berubah, bulan dan bintang masih selalu setia memancarkan cahayanya disaat "MALAM" mulai datang. Yang berbeda hanyalah tempat dan suara-suara alam yang jarang sekali aku dengar di tempat sebelumnya aku berada. Suara-suara itu selalu hadir disaat langit mulai gelap.

Tentu kalian bertanya-tanya, ada apa dengan MALAMku saat ini, kenapa aku sekarang tidak suka dengan “MALAM”..????

Sebenarnya aku tidak pernah membenci ataupun menyalahkan “MALAM”, karena “MALAM” adalah penyeimbang bagi siang. Hanya saja aku tidak suka dengan suasana “MALAM” di tempat ini(AMFOANG TIMUR), tempat di mana aku berada saat ini.
Mungkin menurut kalian aku seorang yang egois, atau bahkan tidak mensyukuri karunia tuhan dan lain sebagainya. Tetapi, aku punya alasan sendiri kenapa aku tidak suka dengan suasana “MALAM’ di tempat ini (AMFOANG TIMUR).

Ini adalah cerita di mana aku dan teman-temanku ditugaskan untuk mendidik di daerah, sebut saja “AMFOANG TIMUR”. Daerah perbatasan antara INDONESIA dan Timor Leste (Negara baru, pecahan dari INDONESIA), menuju kesana hanya membutuhkan jarak kurang lebih lima kilometer saja kami sudah bisa masuk ke negara TL( kalau punya paspor).

Awalnya aku pikir “MALAM” disini akan sama dengan “MALAM” ditempatku dulu berasal, karena masih sama-sama berada dalam satu negara yang kita cintai dan  banggakan INDONESIA. Aku ulangi lagi INDONESIA! Negeri yang terkenal makmur dan kaya atau gemah ripah loh jinawi. Mungkin sebagian dari kalian pernah mendengar kata seperti berikut “TONGKAT KAYU DAN BATU JADI TANAMAN”, ya kalian benar, itu adalah sepenggal kata dari sebuah lagu yang menggambarkan betapa suburnya negeri kita INDONESIA. Awalnya aku percaya dengan kata itu, tetapi ternyata aku salah, mungkin di tempat lain kata itu benar, tetapi itu tidak berlaku disini “AMFOANG TIMUR”.
Aku tidak pernah menyesal di tugaskan di “AMFOANG TIMUR”, justru aku bangga dan senang bisa membaur serta berbagi ilmu dengan saudara-saudaraku yang hidup serba kekurangan di negara yang kaya, INDONESIA. Tetapi, mereka memiliki rasa NASIONALISME yang tinggi.

Langit tidak boleh GELAP,ya kata-kata itu selalu hadir disaat matahari mulai padam dan suara-suara alam mulai terdengar memecah kesunyian “MALAM” yang gelap. 

Teman..!!!!! jujur aku sedih melihat perjuangan saudara-saudara kita yang hidup dalam “KETERBATASAN”. Keterbatasan yang aku maksud adalah keterbatasan “FASILITAS”.
Suasana disini sangat menyedihkan, saat “MALAM” datang desa yang memiliki cukup banyak penghuni ini sunyi mencekam seperti tak berpenghuni, suasa “GELAP” selalu menghatui disaat “MALAM” datang, disini tidak memiliki LISTRIK. Begitupun dengan fasilitas lainnya, bahkan di saat musim HUJAN datang, masyarakan disini mulai gelisah, karena keterbatasan AKSES untuk keluar, karena hampir semua jalan menuju tempat ini masih berupa jalan tanah, dan yang menakutkan lagi di saat hujan datang mereka harus bertahan sampai musim berganti, karena untuk mencapai ke tempat ini harus melewati puluhan SUNGAI yang besar dan tidak memiliki jembatan penghubung, bahkan tidak jarang nyawa jadi taruhannya. 

Teman..!!!
Keadaan seperti itulah yang membuat aku gelisah bila “LANGIT MULAI GELAP”. Aku kasian melihat saudara-saudara kita harus belajar dalam ”KEGELAPAN”, hanya “LENTERA” dan kesunyian yang menjadi saksi betapa malangnya nasib saudara-saudara kita yang tinggal di ujung perbatasan INDONESIA” negara “KAYA dan MAKMUR”, tetapi tidak bagi “MERAKA” yang tinggal disini.

Teman….!!!!!

Dan aku selalu berharap, “LANGIT akan selalu TERANG, bukan GELAP...





                                  By
                                 
                                  Hendi Riswandi Ali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayam Terkenal