Pepaya VS
Terong
Dulu klo
gue di Tanya tentang makanan favorit, gue pasti selalu menjawab makanan favorit
gue adalah “ Shusi, Seafood, Spaghetty, Pizza, Sapu2” pokoknya makanan yang siap saji dan praktis.. kerena selain rasanya yang enak dilidah makanan
yang gue sebutkan tadi di sajikan dalam bentuk yang menarik, sehingga membuat
nafsu makan gue bertambah.
Lain dulu,
lain juga sekarang, klo sekarang gue di Tanya apa sih makanan yang lho sukai,
pasti dengan cepat, bahkan secepat kilat gue akan manjawab.
^ Makanan kesukaan Gue adalah PEPAYA
DAN TERONG…!!!!!
Mungkin
terdengar agak aneh, bahkan lucu karena jawaban tadi berbanding berbalik dengan
apa yang gue sukai dulu, bahkan perbedaanya sama seperti orang kulit putih dan
orang kulit hitam . Akan tetapi itulah kenyataaan.
Sejak
kedatangan gue kesini ( Amfoang Timur )sekitar lima bulan yang lalu, kehidupan
gue berubah jauh, nggak hanya dari segi makanan saja, cara berpakaian barubah,
cara bicara berubah, cara mandi, cara tidur, pokoknya semua berubah. Sebenarnya
bukan tempat ini yang merubah gue, tapi keadaan dan kondisi yang memaksa gue
harus bermetamorfosis menjadi seorang yang terlihat agak aneh demi bertahan
hidup.
Gue yang
dulu gemar berwisata kuliner sekarang Cuma bisa menahan diri dengan segala
keterbatasan. Tidak pernah terlintas di pikiran gue, klo gue bakal hidup
ditempat yang yaa bisa dikatakan kering, gersang dan tandus, nggak banyak
makanan yang bisa gue konsumsi disini selain makanan yang berasal dari berbagai
jenis spesies tumbuh-tumbuhan seperti “ Daun Marungga, Singkong, Kangkung,
Bayam, Labu “ pokonya segala sesuatu yang berasal dari daun dech. Awalnya gue
masih bisa terima meskipun tiap hari harus memaksa rahang gue untuk mengunyah
berbagai macam makanan yang berbahan dasar daun-daunan yang nyaris nggak ada
bedanya dengan makanan si Ipul (Kambing).
Tiga bulan
pertama lambung gue cukup bisa bernegosiasi dengan berbagai macam hidangan yang
terbuat dari daun, bahkan bisa dikatakan perut gue sukses bahkan bersahabat
baik dengan masakan ala anak rantauan. Memasuki bulan ke empat atau lebih
tepatnya bulan april gudang makanan kami mengalami goncangan yang lumayan
dahsyat, sejauh malat melotot yang terlihat hanyalah tumpukkan-tumpukkan terong
dengan berbagai variasi bentuk dan warna, ada yang “Panjang Bulat Beras,
Panjang, Bulat Kecil, Pendek Besar, Pendek Kecil” bahkan menurut salah satu
teman gue, sebut saja Ari, bentuk Terong hampir sama dengan bentuk ******.
Seakan tidak mau kalah dengan bentuknya yang aneh, warnanya juga sangat
beranekaragam “Hijau, Ungu, Orenge, Merah, Kuning” mirip MakeUpnya Dedien… >_< o_o *_*
Memasuki
hari kamis, nafsu makan gue mulai turun karena melihat berbagai macam masakan
yang terbuat dari Terong, semua macam menu yang berbahan dasar terong sudah gue
dan teman-teman coba. Mulai dari “Tumis Terong, Sup Terong, Sambal Terong”
bahkan karena sudah kehabisan akal kami mencoba berEksprimen membuat menu baru
yaitu “ Terong Goreng Tepung”. Bisa di banyakan gimana rasanya, terong yang mestinya
dimakan buat lalapan tiba-tiba digoreng dengan tempung yang menimbulkan cita
rasa yang aneh tapi nikmat……
Oia, gue
dan teman2 memiliki ciri khas dalam memotong “Terong”, meskipun nggak melihat
siapa yang masak tapi dari gaya potongannya kami sudah tau siapa yang masak,
berikut gaya potong :
^ Potongan Bulat itu ciri khas Ari…
^ Potongan Panjang, Mas Agung
^ Potongan Bulat tapi agak Nyerong itu
tehnik gue
^ Potongan Gaya Dadu, itu cara Ahmad
^ Potongan Setenga Bulat Erwin
Setelah
tiga hari berturut-turut makan terong dengan berbagai variasi, akhirnya stok
terongpun ludes tak sedikitpun tersisa, bahkan Gudang Makanan kami benar-benar
kosong melompong, yang ada hanyalah beberapa butir bawang, garam, dan cebe yang
mulai layu dan kering. Yach klo sudah begini apa boleh buat, pikiran harus
diputar biar bisa makan, karna nggak mungkin pergi ke pasar karena pasar baru
akan di buka dua hari kedepan tepatnya pasar hanya buka setiap hari selasa
doang… (^_^)’”, (^_^)’”,
Klo sudah
berada pada posisi seperti ini, satu-satunya jurus pamungkas yang tersisa
adalah mencari makanan buat sayur alternative. Setelah berpikir cukup lama
akhirnya kami mencoba sayur baru yaitu buah “Pepaya”. Oia disini nggak hanya
buahnya saja yang bisa dibuat sayur, perlu kalian ketahui hampir sebagian besar
masyarakat disini mengkonsumsi “Pepaya” mulai dari buah, Daun, hingga Bunganya
juga lhooo… dan asal kalian tau ternyata Bunga “Pepaya” bisa menjadi obat
pencegah Penyakit Malaria, soalnya rasanya Pahit Benget jadi Nyamuknya ogah
menghisap darah mereka..>:::::J> JJJJJ
^
wooy masak.. masak..masaak… yach begitulah suara Ahmad yang selalu merasa lapar
LLLL
^
Siapa siich yang piket masak hari ini… cetus hadi yang seakan menambah
kepanikan…JJJJJ
^
Iya siapa siiih yang piket, lama banget, laper nieh..laper…
^
Seakan menegaskan bahwa dia orang asli Bali , Ari menambah kehebohan.. makan..
makan.. makan..makan……
^
Melihat Situasi yang sudah tidak kondusif lagi, dengan suara yang lantang
seperti seorang Caleg yang sedang Kampanye Mas Agung menjawab, Okeee Kali ini
Saya akan memasak, masakan yang special buat kalian..
Menu pertama
yang kami masak adalah :
^ Layaknya seorang Master Chef professional Mas
Agung memperkenalkan masakannya ke semua penghuni Rumah Dinas SM3T Amfoang
Timur… Okeee, baiklah teman-temanku sekalian kali ini. Saya akan memberi nama
masakan ini dengan nama “Pepaya Tumis Kering Super Pedas”....
Yach menu
di atas di temukan oleh seorang Teman Gue yang bernama Agung Nugroho, S.Pd
Seorang Guru Bahasa Indonesia pada tahun 2012. meskipun dengan bumbu yang
seadanya temen gue sukses mengolah “Pepaya” menjadi hidangan yang cukup
lezatzzzzzzzzz, dengan rasa pedas dan terkadang bercampur rasa manis dari buah
papaya seakan menambah kenikmatan, klo di nilai sekitar 8,5 laaah… Mas Agung
pun mendapat pujian dari teman-teman. Setidaknya itu yang terlihat jelas dari
senyuman sembringah dari bibir sexy teman-teman yang menahan pedas.
^ Kalian tahu nggak kenapa masakan tadi rasanya enak
banget, padahal bumbunya Cuma seadaanya,… Tanya Mas Agung dengan wajah
Misteriusnya…. *_* O_O”
^ Nggak tau, kok bisa Mas, jawab Mas Arif dengan
mimic wajah sedikit manjan dan Berlebihan…????? Enak banget lhoo mas, tambahnya
sambil menyantap makanan dengan lahap…
^ Dengan sedikit sombong dan over PeDe, Mas Agung
menjawab, sebenarnya nggak ada yang special dari masakan saya tadi, yang
membuat masakan tadi berbeda hanyalah cara masaknya, tadii saya masak dengan
penuh Rasa Cinta.. makanya rasanya enak..hehehehehe…
^ OoooooooWW ia lah jelas enak, kan beda rasa
masakan orang yang sudah mau KAWIiiiiiiN, cetus ARI dengan lantang
dan membuat Mas Agung jadi salah tingkah…..
Seakan
nggak mau kalah dengan Mas Agung, Gue mencoba dengan tekhnik berbeda. Gue yang
gemar dengan masakan berkuah membuat hidangan khas Indonesia dengan 100% bumbu
asli Indonesia. Kali ini gue kasih nama sayur Gue :
^ Pepaya Sayur Kuning… ‘(*_*)”’, J J J J ‘(*_*)”’,
^ Dengan bumbu dasar Bawang Merah + Putih, Cabe,
Lengkuas, Kunyit, Garam, serta sedikit sentuhan penyedap masakan.
Selang beberapa
saat kemudian, akhirnya masakan gue selasai juga, seperti biasa setelah slesai
masak tugas berikutnya adalah membagi masakan untuk Sembilan orang, yah maklum
berbuhung kami disini cowok-cowok semua, jadi harus dibagi-bagi biar semua
dapat jatah, karna klo nggak dibagi bisa-bisa yang lain nggak kebagian alias
ludes tanpa sisa.. setelah semua dipastikan mendapat jatah baru kami menyantap
dengan lahap, yach menskipun masakan gue nggak sesukses Mas Agung, tapi lumayan
setidaknya bisa mendapat menu baru.. hekzheheheheehe….
Hari demi
hari disaat persediaan sayuran kami sudah habis, kami selalu memanfaatkan semua
yang ada disekitar tempat tinggal kami, yang salah satunya “Pepaya” seiring
berjalannya waktu kami semakin banyak variasi masakan dengan bahan dasar
Pepaya. Meskipun rasanya terkadang aneh, tapi apa boleh buat. Disini “ Amfoang
Timur “ nggak ada makanan yang nggak enak, semuanya di anggap enak, yang
penting bisa hidup setidaknya sampai Gue dan Teman2 pulang akhir November.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar