“Tak se-
Hitam Kulitnya”
Selasa, 20 Maret 2012
Pagii ini
kabut mendung dan udara dingin serta ditambah angin yang bertiup cukup kencang
masih setia menyelimuti hampir sebagian besar wilayah amfoang timur. Sesuai
dengan kesepakatan yang telah kami * P3K * buat tentang daftar kerja dan
belanja, maka hari ini yang mendapatkan tugas untuk belanja kebutuhan kami
selama satu minggu adalah Gwe dan Putu.
Rintik air
hujan yang turun dari langiit mendung
dan angin yang super dingin khas kawasan sabana tak mambuat langkan Gwe
berhenti, jengkal demi jengkal langkah kaki Gwe menelusuri jalan setapak penuh
dengan rumput hijau yang semakin tinggi karena tersiram air hujan, menuju
sebuah rumah yang taj begitu jauh dari rumah dinas kami.
Langkah
kaki Gwe mulai terhenti, ketika gwe mamasuki pintu rumah yang terbuka lebar
tapi tak terlihat satu orangpun didalamnya.
^ Om Sam….. Om Sammy……
^ Oei, Apa mas Hen, jawab
seseorang dari balik horden kamar..
^ Saya mau penjam
motor, Bisa Ko Sonde pa.. Jawab Gwe dengan Bahasa Daerah yang pas-pasan
^ Oke Bawa Sa….
Usai meminjam motor milik pegawai Kecamatan, Gwe
bergegas menuju rumah dinas sambil mendorong motor yang sejak tadi tidak bisa
hidup.. selang beberapa menit kemudian, setelah berjuang sekuat tenaga
menghidupkan motor, dan berkat rayuan
maut Putu akhirnya motor bisa menyala juga. Seakan tak ingin membuang2 waktu
Gwe dan Putu langsung tancap gas menuju Pasar Oefoli, sebuah pasar yang
terletak di daerah perbatasan dan hanya buka seminggu sekali, atau lebih
tepatnya hanya buka setiap hari selalsa.
Perjalanan kepasar kali ini sedikit berbeda dari
sebelumnya, selain karena cuaca uang kurang mendukung, Gwe dan Putu juga
menemukan banyak kendala. Dengan mengendarai motor Kawasaki berwarna hitam kami
menerobos jalan2 berlumpur yang tak jarang harus mamaksa kami untuk turun dan
mendorong motor. Bahkan kami sempat berhenti sejenak ketika motor yang kami
kendarai tak mampu melewati derasnya sungai yang melintas tepat di tengah-
tengah jalan yang akan kami lewati.
Selain arusnya yang cukup deras, aliran air sungai
ini juga membawa bongkahan-bongkohan batu yang lumayan besar, bisa membuat
orang pingsan, dan sewaktu-waktu dapat membuat ban motor kami tergelincir.
Meskipun kami harus dipasak turun dan memdorong motor agar sampai diseberang,
tapi kami mendapatkan banyak pelajaran dan bisa melihat secara langsung betapa
baiknya orang timor.
Gwe dan Putu sempat berhenti di sungai ini, selain
karna motor kami tak mampu menerobos desarnya air sungai, salah satu sendal
milik Putu terlepas dan hanyut terbawa arus sungai. Gwe sendiripun sudah
berusaha untuk mengejar, tapi karna arus airnya yang deras maka Gwe biarkan
saja sendal itu hanyut.
Disaat Gwe dan Putu sudah pasrah dan merelakan sedal
itu hanyut, tapi dari tepi sungai terlihat seorang bocah laki-laki berkulit
hitam dan berambut kriting serta berpakaian Putih Merah ( Seragam SD) berlari
dengan cepat menantang arus sungai hanya mengejar sendal yang tak seberapa
harganya jika dibandingkan dengan nyawanya. Hanya untuk kami, Orang Asing yang
baru beberapa bulan tinggal di daerah Mereka “ Amfoang Timur”.
Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja Gwe dan
Putu Saksikan, Kami hanya terdiam dan benar2 tak bisa berkata apa-apa melihat
pengorbanannya yang rela basah-basahan manantang derasnya arus sungai serta
tejamnya bongkahan-bongkaghan batu yang setiap saat bisa melukai tubuhnya yang
tak seberapa tangguh.
Seiring berputarnya roda motor, Gwe berpikir tentang
apa yang baru saja Gwe saksikan tadi. Seorang anak yang rela mengorbankan
nyawanya hanya demi sendal yang tak seberapa harganya untuk orang yang baru
dikenal. Sungguh hal yang sangat-sangat jarang Gwe temui di tempat lain. Dan
gwe yakin gag bakal bisa ketemu lagi dengan anak seperti itu di tempat lain.
Dengan pakaian yang lembab karna tesiram air hujan
dan kaki kotor terkena lumpur, akhirnya Gwe dan Putu tiba di Pasar Oefoli, kami
disambut dengan suasana sepi, tak seperti hari-hari biasanya. Sejauh mata
memandang yang terlihat hanyalah tenda-tenda yang bisa bisa dihitung dengan
jari saja yang baru buka dan memajangkan jualannya, serta dijaga ketak oleh
anjing2 yang berpatroli sana-sini…
Setelah selesai belanja kebutuhan mingguan kami, Gwe
dan Putu meninggalkan pasa dengan membawa barang-barang yang nyaris membuiat
punggung dan tangan Gwe lepas, belum lagi ditambah kondisi jalan yang becek,
berlumpur yang amat sangat memacu adrenalir. Dengan penuh kehati-hatian satu
demi satu jalan berlubang seperti kolam lumpur berhasil kami lalui dengan
selamat. Walaupun terkadang sedikit dibumbui dengan teriakan seksi yang keluar
dari mulut Gwe dan Putu.. WkWkwwkwkwk….
Meskipun kami berhasil melewati jalan becek
berlumpur dengan selamat, akan tetapi untuk yang kedua kalinya, roda dan mesin
motor kami terpaksa berhenti di tengah-tengah sungai. Kali ini bukan karena
dihadang bongkahan batu, tapi karna rantai motor kami tinba-tiba lepas, ya
mungkin karna terlalu banyak beban jadi motornya ngambek… dengan barang bawaan
yang super numpuk gwe dipaksa turun dari motor dan berjalan menuju seberang,
sunggu sesuatu hal yang kurang mengenakan buat Gwe.
Baru saja kaki Gwe menapak di salah satu bongkahan
batu yang sangat besar dan meletakan barang bawaan Gwe lagi-lagi Putu teriak
kehebohan gara-gara sendalnya hanyut.. berhubung sendalnya bisa Gwe jangkau
jadi Gwe lagi mengejar sendal Putu. Sungguh suatu yang tak terpikirkan disaat
sendal itu pas lewat di depan mata gwe dan tinggal sejengkal lagii tiba-tiba
sendal Gwe juga gag mau kalah eksis, sendal gwe ikut-itukan hanyut terjun bebas
mengarungi derasnya air sungai.
^ Ya sendal Gwe juga hanyut Tu, Teriak gwe
dengan suara pasrah
^ yaudah biarin aja, mungkin
buka Jodo, jawab Putu dengan Sok Iklas…
^ tapii saying, sendalnya
masih baruu.. eman-eman….
^ Mau gmana lagii, daripada
lo ikut hanyut…
Meskipun dengan amat sangat berat hati mengiklaskan sendal yang baru saja Gwe
bili, selain masih baru dab bagus, serta bisa bertahan setahun kan eman-eman
bisa hemat.. piker Gwe dalam hatii.., mungkin tuhan emang lagii baik ma Gwe dan
mungkin juga karna tuhan tau gwe gag iklas merelakan sendal Gwe hanyut gitu
aja, tiba- tiba dari samping gwe meluncur seorang lekaki tua, berjenggot putih
berlari dengan penuh semangat memecah derasnya arus sungai. Dengan semangat
yang berapi-api akhirnya sendal Gwe dan Putu berhasil diselamatkan oleh seorang
kakek yang sudah tua..
Gwe seakan menyaksikan sebuah Film Kolosal yang
melihat adegan seseorang yang sedang melintas di atas air tanpa pemeran
pembantu, sungguh pemandangan yang original. Dengan sedikit rasa malu usai
menerima sendal dari kakek tangguh, dengan kaki yang sedikit sempoyongan Gwe
jalan menghampiri Putu yang sedang berusaha memperbaiki rantai motor.
^
Waaah, Gw gag enak banget sama Kakek itu, Ucap Putu dengan wajah melasnya..
^
Iya, Salut Gwe Putu, Semangat banget dia Gwe gag bisa bayangin klo tadi dia
jatuh gimana?
^ Baik Banget yah. Jawab
Putu dengan perasaan bersalahnya..
^ Iya ternyata
orang disini baik-baik, mereka rela basah2an bahkan gag takut terluka untuk
menolong kita.
Begitulah percakapan singkat antara Gwe dan Putu
setelah ditolong oleh kakek tangguh yang baik hati..
Ya, lagi-lagi Gwe harus mengakui ternyata “ Orang
Timor” itu tak sekasar dan seburuk yang orang bilang, karna sampai saat ini Gwe
belum melihat kebenaran atas apa yang di ceritakan orang-orang. Bahkan menurut
Gwe mereka justru baik-baik, ramah, bahkan tak jarang kami selalu dibuat nyaman
dan tertawa dengan cara humor mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar