Pages

Rabu, 04 Juli 2012

“Tak se- Hitam Kulitnya”

“Tak se- Hitam Kulitnya”

Selasa, 20 Maret 2012

Pagii ini kabut mendung dan udara dingin serta ditambah angin yang bertiup cukup kencang masih setia menyelimuti hampir sebagian besar wilayah amfoang timur. Sesuai dengan kesepakatan yang telah kami * P3K * buat tentang daftar kerja dan belanja, maka hari ini yang mendapatkan tugas untuk belanja kebutuhan kami selama satu minggu adalah Gwe dan Putu.

Rintik air hujan yang turun dari langiit mendung  dan angin yang super dingin khas kawasan sabana tak mambuat langkan Gwe berhenti, jengkal demi jengkal langkah kaki Gwe menelusuri jalan setapak penuh dengan rumput hijau yang semakin tinggi karena tersiram air hujan, menuju sebuah rumah yang taj begitu jauh dari rumah dinas kami.

Langkah kaki Gwe mulai terhenti, ketika gwe mamasuki pintu rumah yang terbuka lebar tapi tak terlihat satu orangpun didalamnya.
^ Om Sam….. Om Sammy……
^ Oei, Apa mas Hen, jawab seseorang dari balik horden kamar..
^ Saya mau penjam motor, Bisa Ko Sonde pa.. Jawab Gwe dengan Bahasa Daerah yang pas-pasan
^ Oke Bawa Sa….

Usai meminjam motor milik pegawai Kecamatan, Gwe bergegas menuju rumah dinas sambil mendorong motor yang sejak tadi tidak bisa hidup.. selang beberapa menit kemudian, setelah berjuang sekuat tenaga menghidupkan motor, dan  berkat rayuan maut Putu akhirnya motor bisa menyala juga. Seakan tak ingin membuang2 waktu Gwe dan Putu langsung tancap gas menuju Pasar Oefoli, sebuah pasar yang terletak di daerah perbatasan dan hanya buka seminggu sekali, atau lebih tepatnya hanya buka setiap hari selalsa.

Perjalanan kepasar kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya, selain karena cuaca uang kurang mendukung, Gwe dan Putu juga menemukan banyak kendala. Dengan mengendarai motor Kawasaki berwarna hitam kami menerobos jalan2 berlumpur yang tak jarang harus mamaksa kami untuk turun dan mendorong motor. Bahkan kami sempat berhenti sejenak ketika motor yang kami kendarai tak mampu melewati derasnya sungai yang melintas tepat di tengah- tengah jalan yang akan kami lewati.

Selain arusnya yang cukup deras, aliran air sungai ini juga membawa bongkahan-bongkohan batu yang lumayan besar, bisa membuat orang pingsan, dan sewaktu-waktu dapat membuat ban motor kami tergelincir. Meskipun kami harus dipasak turun dan memdorong motor agar sampai diseberang, tapi kami mendapatkan banyak pelajaran dan bisa melihat secara langsung betapa baiknya orang timor.

Gwe dan Putu sempat berhenti di sungai ini, selain karna motor kami tak mampu menerobos desarnya air sungai, salah satu sendal milik Putu terlepas dan hanyut terbawa arus sungai. Gwe sendiripun sudah berusaha untuk mengejar, tapi karna arus airnya yang deras maka Gwe biarkan saja sendal itu hanyut.

Disaat Gwe dan Putu sudah pasrah dan merelakan sedal itu hanyut, tapi dari tepi sungai terlihat seorang bocah laki-laki berkulit hitam dan berambut kriting serta berpakaian Putih Merah ( Seragam SD) berlari dengan cepat menantang arus sungai hanya mengejar sendal yang tak seberapa harganya jika dibandingkan dengan nyawanya. Hanya untuk kami, Orang Asing yang baru beberapa bulan tinggal di daerah Mereka “ Amfoang Timur”.

Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja Gwe dan Putu Saksikan, Kami hanya terdiam dan benar2 tak bisa berkata apa-apa melihat pengorbanannya yang rela basah-basahan manantang derasnya arus sungai serta tejamnya bongkahan-bongkaghan batu yang setiap saat bisa melukai tubuhnya yang tak seberapa tangguh.

Seiring berputarnya roda motor, Gwe berpikir tentang apa yang baru saja Gwe saksikan tadi. Seorang anak yang rela mengorbankan nyawanya hanya demi sendal yang tak seberapa harganya untuk orang yang baru dikenal. Sungguh hal yang sangat-sangat jarang Gwe temui di tempat lain. Dan gwe yakin gag bakal bisa ketemu lagi dengan anak seperti itu di tempat lain.

Dengan pakaian yang lembab karna tesiram air hujan dan kaki kotor terkena lumpur, akhirnya Gwe dan Putu tiba di Pasar Oefoli, kami disambut dengan suasana sepi, tak seperti hari-hari biasanya. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah tenda-tenda yang bisa bisa dihitung dengan jari saja yang baru buka dan memajangkan jualannya, serta dijaga ketak oleh anjing2 yang berpatroli sana-sini…

Setelah selesai belanja kebutuhan mingguan kami, Gwe dan Putu meninggalkan pasa dengan membawa barang-barang yang nyaris membuiat punggung dan tangan Gwe lepas, belum lagi ditambah kondisi jalan yang becek, berlumpur yang amat sangat memacu adrenalir. Dengan penuh kehati-hatian satu demi satu jalan berlubang seperti kolam lumpur berhasil kami lalui dengan selamat. Walaupun terkadang sedikit dibumbui dengan teriakan seksi yang keluar dari mulut Gwe dan Putu.. WkWkwwkwkwk….

Meskipun kami berhasil melewati jalan becek berlumpur dengan selamat, akan tetapi untuk yang kedua kalinya, roda dan mesin motor kami terpaksa berhenti di tengah-tengah sungai. Kali ini bukan karena dihadang bongkahan batu, tapi karna rantai motor kami tinba-tiba lepas, ya mungkin karna terlalu banyak beban jadi motornya ngambek… dengan barang bawaan yang super numpuk gwe dipaksa turun dari motor dan berjalan menuju seberang, sunggu sesuatu hal yang kurang mengenakan buat Gwe.

Baru saja kaki Gwe menapak di salah satu bongkahan batu yang sangat besar dan meletakan barang bawaan Gwe lagi-lagi Putu teriak kehebohan gara-gara sendalnya hanyut.. berhubung sendalnya bisa Gwe jangkau jadi Gwe lagi mengejar sendal Putu. Sungguh suatu yang tak terpikirkan disaat sendal itu pas lewat di depan mata gwe dan tinggal sejengkal lagii tiba-tiba sendal Gwe juga gag mau kalah eksis, sendal gwe ikut-itukan hanyut terjun bebas mengarungi derasnya air sungai.

^  Ya sendal Gwe juga hanyut Tu, Teriak gwe dengan suara pasrah
^ yaudah biarin aja, mungkin buka Jodo, jawab Putu dengan Sok Iklas…
^ tapii saying, sendalnya masih baruu.. eman-eman….
^ Mau gmana lagii, daripada lo ikut hanyut…

Meskipun dengan amat sangat berat  hati mengiklaskan sendal yang baru saja Gwe bili, selain masih baru dab bagus, serta bisa bertahan setahun kan eman-eman bisa hemat.. piker Gwe dalam hatii.., mungkin tuhan emang lagii baik ma Gwe dan mungkin juga karna tuhan tau gwe gag iklas merelakan sendal Gwe hanyut gitu aja, tiba- tiba dari samping gwe meluncur seorang lekaki tua, berjenggot putih berlari dengan penuh semangat memecah derasnya arus sungai. Dengan semangat yang berapi-api akhirnya sendal Gwe dan Putu berhasil diselamatkan oleh seorang kakek yang sudah tua..
Gwe seakan menyaksikan sebuah Film Kolosal yang melihat adegan seseorang yang sedang melintas di atas air tanpa pemeran pembantu, sungguh pemandangan yang original. Dengan sedikit rasa malu usai menerima sendal dari kakek tangguh, dengan kaki yang sedikit sempoyongan Gwe jalan menghampiri Putu yang sedang berusaha memperbaiki rantai motor.

^ Waaah, Gw gag enak banget sama Kakek itu, Ucap Putu dengan wajah melasnya..
^ Iya, Salut Gwe Putu, Semangat banget dia Gwe gag bisa bayangin klo tadi dia jatuh gimana?
^ Baik Banget yah. Jawab Putu dengan perasaan bersalahnya..
^ Iya ternyata orang disini baik-baik, mereka rela basah2an bahkan gag takut terluka untuk menolong kita.
Begitulah percakapan singkat antara Gwe dan Putu setelah ditolong oleh kakek tangguh yang baik hati..

Ya, lagi-lagi Gwe harus mengakui ternyata “ Orang Timor” itu tak sekasar dan seburuk yang orang bilang, karna sampai saat ini Gwe belum melihat kebenaran atas apa yang di ceritakan orang-orang. Bahkan menurut Gwe mereka justru baik-baik, ramah, bahkan tak jarang kami selalu dibuat nyaman dan tertawa dengan cara humor mereka.


“Tak se- Hitam Kulitnya”

“Tak se- Hitam Kulitnya”

Selasa, 20 Maret 2012

Pagii ini kabut mendung dan udara dingin serta ditambah angin yang bertiup cukup kencang masih setia menyelimuti hampir sebagian besar wilayah amfoang timur. Sesuai dengan kesepakatan yang telah kami * P3K * buat tentang daftar kerja dan belanja, maka hari ini yang mendapatkan tugas untuk belanja kebutuhan kami selama satu minggu adalah Gwe dan Putu.

Rintik air hujan yang turun dari langiit mendung  dan angin yang super dingin khas kawasan sabana tak mambuat langkan Gwe berhenti, jengkal demi jengkal langkah kaki Gwe menelusuri jalan setapak penuh dengan rumput hijau yang semakin tinggi karena tersiram air hujan, menuju sebuah rumah yang taj begitu jauh dari rumah dinas kami.

Langkah kaki Gwe mulai terhenti, ketika gwe mamasuki pintu rumah yang terbuka lebar tapi tak terlihat satu orangpun didalamnya.
^ Om Sam….. Om Sammy……
^ Oei, Apa mas Hen, jawab seseorang dari balik horden kamar..
^ Saya mau penjam motor, Bisa Ko Sonde pa.. Jawab Gwe dengan Bahasa Daerah yang pas-pasan
^ Oke Bawa Sa….

Usai meminjam motor milik pegawai Kecamatan, Gwe bergegas menuju rumah dinas sambil mendorong motor yang sejak tadi tidak bisa hidup.. selang beberapa menit kemudian, setelah berjuang sekuat tenaga menghidupkan motor, dan  berkat rayuan maut Putu akhirnya motor bisa menyala juga. Seakan tak ingin membuang2 waktu Gwe dan Putu langsung tancap gas menuju Pasar Oefoli, sebuah pasar yang terletak di daerah perbatasan dan hanya buka seminggu sekali, atau lebih tepatnya hanya buka setiap hari selalsa.

Perjalanan kepasar kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya, selain karena cuaca uang kurang mendukung, Gwe dan Putu juga menemukan banyak kendala. Dengan mengendarai motor Kawasaki berwarna hitam kami menerobos jalan2 berlumpur yang tak jarang harus mamaksa kami untuk turun dan mendorong motor. Bahkan kami sempat berhenti sejenak ketika motor yang kami kendarai tak mampu melewati derasnya sungai yang melintas tepat di tengah- tengah jalan yang akan kami lewati.

Selain arusnya yang cukup deras, aliran air sungai ini juga membawa bongkahan-bongkohan batu yang lumayan besar, bisa membuat orang pingsan, dan sewaktu-waktu dapat membuat ban motor kami tergelincir. Meskipun kami harus dipasak turun dan memdorong motor agar sampai diseberang, tapi kami mendapatkan banyak pelajaran dan bisa melihat secara langsung betapa baiknya orang timor.

Gwe dan Putu sempat berhenti di sungai ini, selain karna motor kami tak mampu menerobos desarnya air sungai, salah satu sendal milik Putu terlepas dan hanyut terbawa arus sungai. Gwe sendiripun sudah berusaha untuk mengejar, tapi karna arus airnya yang deras maka Gwe biarkan saja sendal itu hanyut.

Disaat Gwe dan Putu sudah pasrah dan merelakan sedal itu hanyut, tapi dari tepi sungai terlihat seorang bocah laki-laki berkulit hitam dan berambut kriting serta berpakaian Putih Merah ( Seragam SD) berlari dengan cepat menantang arus sungai hanya mengejar sendal yang tak seberapa harganya jika dibandingkan dengan nyawanya. Hanya untuk kami, Orang Asing yang baru beberapa bulan tinggal di daerah Mereka “ Amfoang Timur”.

Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja Gwe dan Putu Saksikan, Kami hanya terdiam dan benar2 tak bisa berkata apa-apa melihat pengorbanannya yang rela basah-basahan manantang derasnya arus sungai serta tejamnya bongkahan-bongkaghan batu yang setiap saat bisa melukai tubuhnya yang tak seberapa tangguh.

Seiring berputarnya roda motor, Gwe berpikir tentang apa yang baru saja Gwe saksikan tadi. Seorang anak yang rela mengorbankan nyawanya hanya demi sendal yang tak seberapa harganya untuk orang yang baru dikenal. Sungguh hal yang sangat-sangat jarang Gwe temui di tempat lain. Dan gwe yakin gag bakal bisa ketemu lagi dengan anak seperti itu di tempat lain.

Dengan pakaian yang lembab karna tesiram air hujan dan kaki kotor terkena lumpur, akhirnya Gwe dan Putu tiba di Pasar Oefoli, kami disambut dengan suasana sepi, tak seperti hari-hari biasanya. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah tenda-tenda yang bisa bisa dihitung dengan jari saja yang baru buka dan memajangkan jualannya, serta dijaga ketak oleh anjing2 yang berpatroli sana-sini…

Setelah selesai belanja kebutuhan mingguan kami, Gwe dan Putu meninggalkan pasa dengan membawa barang-barang yang nyaris membuiat punggung dan tangan Gwe lepas, belum lagi ditambah kondisi jalan yang becek, berlumpur yang amat sangat memacu adrenalir. Dengan penuh kehati-hatian satu demi satu jalan berlubang seperti kolam lumpur berhasil kami lalui dengan selamat. Walaupun terkadang sedikit dibumbui dengan teriakan seksi yang keluar dari mulut Gwe dan Putu.. WkWkwwkwkwk….

Meskipun kami berhasil melewati jalan becek berlumpur dengan selamat, akan tetapi untuk yang kedua kalinya, roda dan mesin motor kami terpaksa berhenti di tengah-tengah sungai. Kali ini bukan karena dihadang bongkahan batu, tapi karna rantai motor kami tinba-tiba lepas, ya mungkin karna terlalu banyak beban jadi motornya ngambek… dengan barang bawaan yang super numpuk gwe dipaksa turun dari motor dan berjalan menuju seberang, sunggu sesuatu hal yang kurang mengenakan buat Gwe.

Baru saja kaki Gwe menapak di salah satu bongkahan batu yang sangat besar dan meletakan barang bawaan Gwe lagi-lagi Putu teriak kehebohan gara-gara sendalnya hanyut.. berhubung sendalnya bisa Gwe jangkau jadi Gwe lagi mengejar sendal Putu. Sungguh suatu yang tak terpikirkan disaat sendal itu pas lewat di depan mata gwe dan tinggal sejengkal lagii tiba-tiba sendal Gwe juga gag mau kalah eksis, sendal gwe ikut-itukan hanyut terjun bebas mengarungi derasnya air sungai.

^  Ya sendal Gwe juga hanyut Tu, Teriak gwe dengan suara pasrah
^ yaudah biarin aja, mungkin buka Jodo, jawab Putu dengan Sok Iklas…
^ tapii saying, sendalnya masih baruu.. eman-eman….
^ Mau gmana lagii, daripada lo ikut hanyut…

Meskipun dengan amat sangat berat  hati mengiklaskan sendal yang baru saja Gwe bili, selain masih baru dab bagus, serta bisa bertahan setahun kan eman-eman bisa hemat.. piker Gwe dalam hatii.., mungkin tuhan emang lagii baik ma Gwe dan mungkin juga karna tuhan tau gwe gag iklas merelakan sendal Gwe hanyut gitu aja, tiba- tiba dari samping gwe meluncur seorang lekaki tua, berjenggot putih berlari dengan penuh semangat memecah derasnya arus sungai. Dengan semangat yang berapi-api akhirnya sendal Gwe dan Putu berhasil diselamatkan oleh seorang kakek yang sudah tua..
Gwe seakan menyaksikan sebuah Film Kolosal yang melihat adegan seseorang yang sedang melintas di atas air tanpa pemeran pembantu, sungguh pemandangan yang original. Dengan sedikit rasa malu usai menerima sendal dari kakek tangguh, dengan kaki yang sedikit sempoyongan Gwe jalan menghampiri Putu yang sedang berusaha memperbaiki rantai motor.

^ Waaah, Gw gag enak banget sama Kakek itu, Ucap Putu dengan wajah melasnya..
^ Iya, Salut Gwe Putu, Semangat banget dia Gwe gag bisa bayangin klo tadi dia jatuh gimana?
^ Baik Banget yah. Jawab Putu dengan perasaan bersalahnya..
^ Iya ternyata orang disini baik-baik, mereka rela basah2an bahkan gag takut terluka untuk menolong kita.
Begitulah percakapan singkat antara Gwe dan Putu setelah ditolong oleh kakek tangguh yang baik hati..

Ya, lagi-lagi Gwe harus mengakui ternyata “ Orang Timor” itu tak sekasar dan seburuk yang orang bilang, karna sampai saat ini Gwe belum melihat kebenaran atas apa yang di ceritakan orang-orang. Bahkan menurut Gwe mereka justru baik-baik, ramah, bahkan tak jarang kami selalu dibuat nyaman dan tertawa dengan cara humor mereka.


“Tak se- Hitam Kulitnya”

“Tak se- Hitam Kulitnya”

Selasa, 20 Maret 2012

Pagii ini kabut mendung dan udara dingin serta ditambah angin yang bertiup cukup kencang masih setia menyelimuti hampir sebagian besar wilayah amfoang timur. Sesuai dengan kesepakatan yang telah kami * P3K * buat tentang daftar kerja dan belanja, maka hari ini yang mendapatkan tugas untuk belanja kebutuhan kami selama satu minggu adalah Gwe dan Putu.

Rintik air hujan yang turun dari langiit mendung  dan angin yang super dingin khas kawasan sabana tak mambuat langkan Gwe berhenti, jengkal demi jengkal langkah kaki Gwe menelusuri jalan setapak penuh dengan rumput hijau yang semakin tinggi karena tersiram air hujan, menuju sebuah rumah yang taj begitu jauh dari rumah dinas kami.

Langkah kaki Gwe mulai terhenti, ketika gwe mamasuki pintu rumah yang terbuka lebar tapi tak terlihat satu orangpun didalamnya.
^ Om Sam….. Om Sammy……
^ Oei, Apa mas Hen, jawab seseorang dari balik horden kamar..
^ Saya mau penjam motor, Bisa Ko Sonde pa.. Jawab Gwe dengan Bahasa Daerah yang pas-pasan
^ Oke Bawa Sa….

Usai meminjam motor milik pegawai Kecamatan, Gwe bergegas menuju rumah dinas sambil mendorong motor yang sejak tadi tidak bisa hidup.. selang beberapa menit kemudian, setelah berjuang sekuat tenaga menghidupkan motor, dan  berkat rayuan maut Putu akhirnya motor bisa menyala juga. Seakan tak ingin membuang2 waktu Gwe dan Putu langsung tancap gas menuju Pasar Oefoli, sebuah pasar yang terletak di daerah perbatasan dan hanya buka seminggu sekali, atau lebih tepatnya hanya buka setiap hari selalsa.

Perjalanan kepasar kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya, selain karena cuaca uang kurang mendukung, Gwe dan Putu juga menemukan banyak kendala. Dengan mengendarai motor Kawasaki berwarna hitam kami menerobos jalan2 berlumpur yang tak jarang harus mamaksa kami untuk turun dan mendorong motor. Bahkan kami sempat berhenti sejenak ketika motor yang kami kendarai tak mampu melewati derasnya sungai yang melintas tepat di tengah- tengah jalan yang akan kami lewati.

Selain arusnya yang cukup deras, aliran air sungai ini juga membawa bongkahan-bongkohan batu yang lumayan besar, bisa membuat orang pingsan, dan sewaktu-waktu dapat membuat ban motor kami tergelincir. Meskipun kami harus dipasak turun dan memdorong motor agar sampai diseberang, tapi kami mendapatkan banyak pelajaran dan bisa melihat secara langsung betapa baiknya orang timor.

Gwe dan Putu sempat berhenti di sungai ini, selain karna motor kami tak mampu menerobos desarnya air sungai, salah satu sendal milik Putu terlepas dan hanyut terbawa arus sungai. Gwe sendiripun sudah berusaha untuk mengejar, tapi karna arus airnya yang deras maka Gwe biarkan saja sendal itu hanyut.

Disaat Gwe dan Putu sudah pasrah dan merelakan sedal itu hanyut, tapi dari tepi sungai terlihat seorang bocah laki-laki berkulit hitam dan berambut kriting serta berpakaian Putih Merah ( Seragam SD) berlari dengan cepat menantang arus sungai hanya mengejar sendal yang tak seberapa harganya jika dibandingkan dengan nyawanya. Hanya untuk kami, Orang Asing yang baru beberapa bulan tinggal di daerah Mereka “ Amfoang Timur”.

Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja Gwe dan Putu Saksikan, Kami hanya terdiam dan benar2 tak bisa berkata apa-apa melihat pengorbanannya yang rela basah-basahan manantang derasnya arus sungai serta tejamnya bongkahan-bongkaghan batu yang setiap saat bisa melukai tubuhnya yang tak seberapa tangguh.

Seiring berputarnya roda motor, Gwe berpikir tentang apa yang baru saja Gwe saksikan tadi. Seorang anak yang rela mengorbankan nyawanya hanya demi sendal yang tak seberapa harganya untuk orang yang baru dikenal. Sungguh hal yang sangat-sangat jarang Gwe temui di tempat lain. Dan gwe yakin gag bakal bisa ketemu lagi dengan anak seperti itu di tempat lain.

Dengan pakaian yang lembab karna tesiram air hujan dan kaki kotor terkena lumpur, akhirnya Gwe dan Putu tiba di Pasar Oefoli, kami disambut dengan suasana sepi, tak seperti hari-hari biasanya. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah tenda-tenda yang bisa bisa dihitung dengan jari saja yang baru buka dan memajangkan jualannya, serta dijaga ketak oleh anjing2 yang berpatroli sana-sini…

Setelah selesai belanja kebutuhan mingguan kami, Gwe dan Putu meninggalkan pasa dengan membawa barang-barang yang nyaris membuiat punggung dan tangan Gwe lepas, belum lagi ditambah kondisi jalan yang becek, berlumpur yang amat sangat memacu adrenalir. Dengan penuh kehati-hatian satu demi satu jalan berlubang seperti kolam lumpur berhasil kami lalui dengan selamat. Walaupun terkadang sedikit dibumbui dengan teriakan seksi yang keluar dari mulut Gwe dan Putu.. WkWkwwkwkwk….

Meskipun kami berhasil melewati jalan becek berlumpur dengan selamat, akan tetapi untuk yang kedua kalinya, roda dan mesin motor kami terpaksa berhenti di tengah-tengah sungai. Kali ini bukan karena dihadang bongkahan batu, tapi karna rantai motor kami tinba-tiba lepas, ya mungkin karna terlalu banyak beban jadi motornya ngambek… dengan barang bawaan yang super numpuk gwe dipaksa turun dari motor dan berjalan menuju seberang, sunggu sesuatu hal yang kurang mengenakan buat Gwe.

Baru saja kaki Gwe menapak di salah satu bongkahan batu yang sangat besar dan meletakan barang bawaan Gwe lagi-lagi Putu teriak kehebohan gara-gara sendalnya hanyut.. berhubung sendalnya bisa Gwe jangkau jadi Gwe lagi mengejar sendal Putu. Sungguh suatu yang tak terpikirkan disaat sendal itu pas lewat di depan mata gwe dan tinggal sejengkal lagii tiba-tiba sendal Gwe juga gag mau kalah eksis, sendal gwe ikut-itukan hanyut terjun bebas mengarungi derasnya air sungai.

^  Ya sendal Gwe juga hanyut Tu, Teriak gwe dengan suara pasrah
^ yaudah biarin aja, mungkin buka Jodo, jawab Putu dengan Sok Iklas…
^ tapii saying, sendalnya masih baruu.. eman-eman….
^ Mau gmana lagii, daripada lo ikut hanyut…

Meskipun dengan amat sangat berat  hati mengiklaskan sendal yang baru saja Gwe bili, selain masih baru dab bagus, serta bisa bertahan setahun kan eman-eman bisa hemat.. piker Gwe dalam hatii.., mungkin tuhan emang lagii baik ma Gwe dan mungkin juga karna tuhan tau gwe gag iklas merelakan sendal Gwe hanyut gitu aja, tiba- tiba dari samping gwe meluncur seorang lekaki tua, berjenggot putih berlari dengan penuh semangat memecah derasnya arus sungai. Dengan semangat yang berapi-api akhirnya sendal Gwe dan Putu berhasil diselamatkan oleh seorang kakek yang sudah tua..
Gwe seakan menyaksikan sebuah Film Kolosal yang melihat adegan seseorang yang sedang melintas di atas air tanpa pemeran pembantu, sungguh pemandangan yang original. Dengan sedikit rasa malu usai menerima sendal dari kakek tangguh, dengan kaki yang sedikit sempoyongan Gwe jalan menghampiri Putu yang sedang berusaha memperbaiki rantai motor.

^ Waaah, Gw gag enak banget sama Kakek itu, Ucap Putu dengan wajah melasnya..
^ Iya, Salut Gwe Putu, Semangat banget dia Gwe gag bisa bayangin klo tadi dia jatuh gimana?
^ Baik Banget yah. Jawab Putu dengan perasaan bersalahnya..
^ Iya ternyata orang disini baik-baik, mereka rela basah2an bahkan gag takut terluka untuk menolong kita.
Begitulah percakapan singkat antara Gwe dan Putu setelah ditolong oleh kakek tangguh yang baik hati..

Ya, lagi-lagi Gwe harus mengakui ternyata “ Orang Timor” itu tak sekasar dan seburuk yang orang bilang, karna sampai saat ini Gwe belum melihat kebenaran atas apa yang di ceritakan orang-orang. Bahkan menurut Gwe mereka justru baik-baik, ramah, bahkan tak jarang kami selalu dibuat nyaman dan tertawa dengan cara humor mereka.


Lentera Untuk “Langit”


Lentera Untuk Langit”

13, Maret 2012

Disaat gue akan menulis sebuah cerita, gue merasa bingunng, entah cerita apa yang ingin gue tulis, karena gue sendiri seorang pemula yang sedang belajar menulis makanya agak sedikit pusing mengatur bahasa yang baik serta judul yang menarik minat pembaca. Hampir satu jam gue terdiam di bawah “Pohon Cinta” sambil menatap langit  yang penuh dengan biasan cahaya bintang yang seakan menambah keanggunan sang dewi bulan. Meskipun langit malam ini dihiasi jutaan bintang, tapi tak sedikitpun diantara bintang-bintang itu memberiku inspirasi, meraka hanya diam. Angin malam yang mulai terasa dingin hingga menembus pesensianku, akhirnya memaksa gue untuk meninggalkan “Pohon Cinta”. Perlahan gue langkahkan kakiku meninggalkan “ Pohon Cinta” tanpa menulis satu kalimatpun dan segera menyusul teman-temanku yang sudah sejak tadi terlelap tidur.

Selang beberapa menit, gue sampai didalam rumah, dalam kegelapan malam tak satupun gue melihat adanya tanda-tanda kehidupan semuanya hening, sunyi, yang terlihat masih setia menjaga ruangan kosong hanyalah sebuah lentera yang nyaris padam kerena kekurangan minyak dan tertiup oleh angin. Gue berjalan mendekati lentera yang mulai redup, dengan penuh kehati-hatian gue berjalan membawa lentera ke tempat botol minyak, dengan sabar gue mulai menuangkan minyak ke dalam lentera, dan tak lama kemudian lentera mulai mambesar, bahkan dengan gagahnya dia berkobar melawan kuatnya angin malam.

Dengan tatapan kosong gue menatap lentera, dan tanpa gue sadari saraf-saraf otakku mulai bekerja dan seakan membisikanku untuk segera melanjutkan kembali cerita yang pernah gue buat sebelumnya (baca Langit Tak Boleh Gelap), dengan ditemani sebuah lentera gue mulai menjalankan ujung pulpen untuk memulai menulis, ya kali ini gue akan menulis sebuah cerita “ Lentera Untuk Langit “
Lentera…??? Mungkin di zaman sekarang yang menurut sebagian besar orang zaman modern, zaman yang serba canggih, zaman dimana orang-orang sudah hidup dan terbiasa dengan barbagai fasilitas yang serba modern, dan sudah tidak tau lagi apa itu “ Lentera”.

Lentera adalah sebuah penerangan sederhana namun mampu memberikan cahaya kehidupan disaat gue barada dalam kegelapan malam. Lentera menjadi teman terbaik gue dan teman-temanku saat ini, dimana gue dan teman-temanku sedang memulai suatu cerita perjalanan hidup kami sebagai “Guru Kontrak SM-3T”.

Mungkin terdengar sederhana, tapi itulah kenyataannya. Meskipun gue dan teman-temanku hidup di zaman serba  canggih, tetapi kami masih bias merasakan betapa berhargannya sebuah “Lentera”. Lentera  memberikan banyak sekali pelajaran hidup yang gue dapatkan saat ini, karena lentera itu laksana teman yang selalu menemaniku disaat gue mulai membenci malam. Walaupun dulu lentera hanyalah sebuah benda yang tak berguna atau bahkan hanya merupakan sebuah pelarian disaat lampu listrik rumahku padam. Tapi kini semuanya sudah berbeda, gue yang dulu memandang lentera hanya sebelah mata sekarang sudah mulai menghargai betapa berharganya sebuah lentara.

Meskipun sinarnya tak seberapa terang, tetapi kobaran api yang dipancarkannya seolah menjadi api yang mampu mengobarkan semangatku untuk melewati setiap langkah hidupku dalam menyelusuri kehidupan yang terasa cukup berat.
Malam-malamku saat ini sudah tak seperti dulu lagi, dimana dulu gue slalu menghabiskan malam dengan gemerlap lampu yang begitu terang-menerang hamper disetiap sudut ruangan rumahku, ataupun ditempat-tempat gue biasa menghabiskan waktu malamku bersama teman-temanku.

Malamku kini seakan terbalik 1800 , kini hampir sebagian besar malamku hanya ditemani sebuah “Lentera” yang sangat sederhana, namun begitu setia manjaga malamku dengan biasan cahayannya yang tak begitu terang.

Awalnya gue merasa jenuh, bosan dengan malamku yang sekarang dan bahkan gue sendiri terkadang merasa tak yakin bias bertahan disini “Amfoang Timur” dengan suasana malam yang jauh dari keramaian, serta serba kekurangan berbagai macam fasilitas. Bahkan untuk sekedar komunikasi saja susah sekali untuk mendapatkan signal, apalagi untuk mangakses internet, tetapi inilah malamku. Malam yang harus gue lewati meskipun hanya ditemani oleh sebuah lentera.

Walaupun cukup sulit bagiku menerima segala keterbatasan ini, tapi gue berusaha belajar bersyukur. Anggap saja ini sebuah anugrah yang diberikan tuhan agar gue bias menghargai arti sebuah kehidupan dan terpenting arti sebuah “Lentera”.

Tanpa terasa sudah satu bulan lebih, gue dan teman-temanku (Peserta SM3T) berada di sini “Amfoang Timur” itu berarti tinggal kurang lebih sebelas bulan lagi kami akan pulung dan meninggalkan semua kenangan yang pernah kami lalui. Dan hampir stiap malam kami selalu ditemani “Lentera”, yak arena disini “ Amfoang Timur “ hanya ada “Lentera”,tidak ada listrik.

Gue pernah mendengan sebuah pepatah “ Tak Kenal Maka Tak Cinta dan Tak Kenal Maka Tak Sayang”. Ya pepatah itulah yang seakan menggambarkan keadaanku saat ini. Ternyata semakin gue belajar menerima semua kekurangan yang ada disini, justru semakin membuat gue terbiasa, dan ternyata semakin sering gue menapat lentera semakin membuat gue tambah nyaman, dan gue baru sadar tenyata lentera itu indah.

Gue mulai nyaman dengan malamku yang selalu ditemani dengan biasan cahaya “lentera” yang terus menyala dengan gagahnya memecah kegelapan malam, dan selalu setia menjaggue hingga gue selasai menulis cerita ini. Dan gue berharap lentera akan selalu ada dan menyala disaat malamku mulai terasa gelap,




Lentera Untuk “Langit”


Lentera Untuk Langit”

13, Maret 2012

Disaat gue akan menulis sebuah cerita, gue merasa bingunng, entah cerita apa yang ingin gue tulis, karena gue sendiri seorang pemula yang sedang belajar menulis makanya agak sedikit pusing mengatur bahasa yang baik serta judul yang menarik minat pembaca. Hampir satu jam gue terdiam di bawah “Pohon Cinta” sambil menatap langit  yang penuh dengan biasan cahaya bintang yang seakan menambah keanggunan sang dewi bulan. Meskipun langit malam ini dihiasi jutaan bintang, tapi tak sedikitpun diantara bintang-bintang itu memberiku inspirasi, meraka hanya diam. Angin malam yang mulai terasa dingin hingga menembus pesensianku, akhirnya memaksa gue untuk meninggalkan “Pohon Cinta”. Perlahan gue langkahkan kakiku meninggalkan “ Pohon Cinta” tanpa menulis satu kalimatpun dan segera menyusul teman-temanku yang sudah sejak tadi terlelap tidur.

Selang beberapa menit, gue sampai didalam rumah, dalam kegelapan malam tak satupun gue melihat adanya tanda-tanda kehidupan semuanya hening, sunyi, yang terlihat masih setia menjaga ruangan kosong hanyalah sebuah lentera yang nyaris padam kerena kekurangan minyak dan tertiup oleh angin. Gue berjalan mendekati lentera yang mulai redup, dengan penuh kehati-hatian gue berjalan membawa lentera ke tempat botol minyak, dengan sabar gue mulai menuangkan minyak ke dalam lentera, dan tak lama kemudian lentera mulai mambesar, bahkan dengan gagahnya dia berkobar melawan kuatnya angin malam.

Dengan tatapan kosong gue menatap lentera, dan tanpa gue sadari saraf-saraf otakku mulai bekerja dan seakan membisikanku untuk segera melanjutkan kembali cerita yang pernah gue buat sebelumnya (baca Langit Tak Boleh Gelap), dengan ditemani sebuah lentera gue mulai menjalankan ujung pulpen untuk memulai menulis, ya kali ini gue akan menulis sebuah cerita “ Lentera Untuk Langit “
Lentera…??? Mungkin di zaman sekarang yang menurut sebagian besar orang zaman modern, zaman yang serba canggih, zaman dimana orang-orang sudah hidup dan terbiasa dengan barbagai fasilitas yang serba modern, dan sudah tidak tau lagi apa itu “ Lentera”.

Lentera adalah sebuah penerangan sederhana namun mampu memberikan cahaya kehidupan disaat gue barada dalam kegelapan malam. Lentera menjadi teman terbaik gue dan teman-temanku saat ini, dimana gue dan teman-temanku sedang memulai suatu cerita perjalanan hidup kami sebagai “Guru Kontrak SM-3T”.

Mungkin terdengar sederhana, tapi itulah kenyataannya. Meskipun gue dan teman-temanku hidup di zaman serba  canggih, tetapi kami masih bias merasakan betapa berhargannya sebuah “Lentera”. Lentera  memberikan banyak sekali pelajaran hidup yang gue dapatkan saat ini, karena lentera itu laksana teman yang selalu menemaniku disaat gue mulai membenci malam. Walaupun dulu lentera hanyalah sebuah benda yang tak berguna atau bahkan hanya merupakan sebuah pelarian disaat lampu listrik rumahku padam. Tapi kini semuanya sudah berbeda, gue yang dulu memandang lentera hanya sebelah mata sekarang sudah mulai menghargai betapa berharganya sebuah lentara.

Meskipun sinarnya tak seberapa terang, tetapi kobaran api yang dipancarkannya seolah menjadi api yang mampu mengobarkan semangatku untuk melewati setiap langkah hidupku dalam menyelusuri kehidupan yang terasa cukup berat.
Malam-malamku saat ini sudah tak seperti dulu lagi, dimana dulu gue slalu menghabiskan malam dengan gemerlap lampu yang begitu terang-menerang hamper disetiap sudut ruangan rumahku, ataupun ditempat-tempat gue biasa menghabiskan waktu malamku bersama teman-temanku.

Malamku kini seakan terbalik 1800 , kini hampir sebagian besar malamku hanya ditemani sebuah “Lentera” yang sangat sederhana, namun begitu setia manjaga malamku dengan biasan cahayannya yang tak begitu terang.

Awalnya gue merasa jenuh, bosan dengan malamku yang sekarang dan bahkan gue sendiri terkadang merasa tak yakin bias bertahan disini “Amfoang Timur” dengan suasana malam yang jauh dari keramaian, serta serba kekurangan berbagai macam fasilitas. Bahkan untuk sekedar komunikasi saja susah sekali untuk mendapatkan signal, apalagi untuk mangakses internet, tetapi inilah malamku. Malam yang harus gue lewati meskipun hanya ditemani oleh sebuah lentera.

Walaupun cukup sulit bagiku menerima segala keterbatasan ini, tapi gue berusaha belajar bersyukur. Anggap saja ini sebuah anugrah yang diberikan tuhan agar gue bias menghargai arti sebuah kehidupan dan terpenting arti sebuah “Lentera”.

Tanpa terasa sudah satu bulan lebih, gue dan teman-temanku (Peserta SM3T) berada di sini “Amfoang Timur” itu berarti tinggal kurang lebih sebelas bulan lagi kami akan pulung dan meninggalkan semua kenangan yang pernah kami lalui. Dan hampir stiap malam kami selalu ditemani “Lentera”, yak arena disini “ Amfoang Timur “ hanya ada “Lentera”,tidak ada listrik.

Gue pernah mendengan sebuah pepatah “ Tak Kenal Maka Tak Cinta dan Tak Kenal Maka Tak Sayang”. Ya pepatah itulah yang seakan menggambarkan keadaanku saat ini. Ternyata semakin gue belajar menerima semua kekurangan yang ada disini, justru semakin membuat gue terbiasa, dan ternyata semakin sering gue menapat lentera semakin membuat gue tambah nyaman, dan gue baru sadar tenyata lentera itu indah.

Gue mulai nyaman dengan malamku yang selalu ditemani dengan biasan cahaya “lentera” yang terus menyala dengan gagahnya memecah kegelapan malam, dan selalu setia menjaggue hingga gue selasai menulis cerita ini. Dan gue berharap lentera akan selalu ada dan menyala disaat malamku mulai terasa gelap,




Lentera Untuk “Langit”


Lentera Untuk Langit”

13, Maret 2012

Disaat gue akan menulis sebuah cerita, gue merasa bingunng, entah cerita apa yang ingin gue tulis, karena gue sendiri seorang pemula yang sedang belajar menulis makanya agak sedikit pusing mengatur bahasa yang baik serta judul yang menarik minat pembaca. Hampir satu jam gue terdiam di bawah “Pohon Cinta” sambil menatap langit  yang penuh dengan biasan cahaya bintang yang seakan menambah keanggunan sang dewi bulan. Meskipun langit malam ini dihiasi jutaan bintang, tapi tak sedikitpun diantara bintang-bintang itu memberiku inspirasi, meraka hanya diam. Angin malam yang mulai terasa dingin hingga menembus pesensianku, akhirnya memaksa gue untuk meninggalkan “Pohon Cinta”. Perlahan gue langkahkan kakiku meninggalkan “ Pohon Cinta” tanpa menulis satu kalimatpun dan segera menyusul teman-temanku yang sudah sejak tadi terlelap tidur.

Selang beberapa menit, gue sampai didalam rumah, dalam kegelapan malam tak satupun gue melihat adanya tanda-tanda kehidupan semuanya hening, sunyi, yang terlihat masih setia menjaga ruangan kosong hanyalah sebuah lentera yang nyaris padam kerena kekurangan minyak dan tertiup oleh angin. Gue berjalan mendekati lentera yang mulai redup, dengan penuh kehati-hatian gue berjalan membawa lentera ke tempat botol minyak, dengan sabar gue mulai menuangkan minyak ke dalam lentera, dan tak lama kemudian lentera mulai mambesar, bahkan dengan gagahnya dia berkobar melawan kuatnya angin malam.

Dengan tatapan kosong gue menatap lentera, dan tanpa gue sadari saraf-saraf otakku mulai bekerja dan seakan membisikanku untuk segera melanjutkan kembali cerita yang pernah gue buat sebelumnya (baca Langit Tak Boleh Gelap), dengan ditemani sebuah lentera gue mulai menjalankan ujung pulpen untuk memulai menulis, ya kali ini gue akan menulis sebuah cerita “ Lentera Untuk Langit “
Lentera…??? Mungkin di zaman sekarang yang menurut sebagian besar orang zaman modern, zaman yang serba canggih, zaman dimana orang-orang sudah hidup dan terbiasa dengan barbagai fasilitas yang serba modern, dan sudah tidak tau lagi apa itu “ Lentera”.

Lentera adalah sebuah penerangan sederhana namun mampu memberikan cahaya kehidupan disaat gue barada dalam kegelapan malam. Lentera menjadi teman terbaik gue dan teman-temanku saat ini, dimana gue dan teman-temanku sedang memulai suatu cerita perjalanan hidup kami sebagai “Guru Kontrak SM-3T”.

Mungkin terdengar sederhana, tapi itulah kenyataannya. Meskipun gue dan teman-temanku hidup di zaman serba  canggih, tetapi kami masih bias merasakan betapa berhargannya sebuah “Lentera”. Lentera  memberikan banyak sekali pelajaran hidup yang gue dapatkan saat ini, karena lentera itu laksana teman yang selalu menemaniku disaat gue mulai membenci malam. Walaupun dulu lentera hanyalah sebuah benda yang tak berguna atau bahkan hanya merupakan sebuah pelarian disaat lampu listrik rumahku padam. Tapi kini semuanya sudah berbeda, gue yang dulu memandang lentera hanya sebelah mata sekarang sudah mulai menghargai betapa berharganya sebuah lentara.

Meskipun sinarnya tak seberapa terang, tetapi kobaran api yang dipancarkannya seolah menjadi api yang mampu mengobarkan semangatku untuk melewati setiap langkah hidupku dalam menyelusuri kehidupan yang terasa cukup berat.
Malam-malamku saat ini sudah tak seperti dulu lagi, dimana dulu gue slalu menghabiskan malam dengan gemerlap lampu yang begitu terang-menerang hamper disetiap sudut ruangan rumahku, ataupun ditempat-tempat gue biasa menghabiskan waktu malamku bersama teman-temanku.

Malamku kini seakan terbalik 1800 , kini hampir sebagian besar malamku hanya ditemani sebuah “Lentera” yang sangat sederhana, namun begitu setia manjaga malamku dengan biasan cahayannya yang tak begitu terang.

Awalnya gue merasa jenuh, bosan dengan malamku yang sekarang dan bahkan gue sendiri terkadang merasa tak yakin bias bertahan disini “Amfoang Timur” dengan suasana malam yang jauh dari keramaian, serta serba kekurangan berbagai macam fasilitas. Bahkan untuk sekedar komunikasi saja susah sekali untuk mendapatkan signal, apalagi untuk mangakses internet, tetapi inilah malamku. Malam yang harus gue lewati meskipun hanya ditemani oleh sebuah lentera.

Walaupun cukup sulit bagiku menerima segala keterbatasan ini, tapi gue berusaha belajar bersyukur. Anggap saja ini sebuah anugrah yang diberikan tuhan agar gue bias menghargai arti sebuah kehidupan dan terpenting arti sebuah “Lentera”.

Tanpa terasa sudah satu bulan lebih, gue dan teman-temanku (Peserta SM3T) berada di sini “Amfoang Timur” itu berarti tinggal kurang lebih sebelas bulan lagi kami akan pulung dan meninggalkan semua kenangan yang pernah kami lalui. Dan hampir stiap malam kami selalu ditemani “Lentera”, yak arena disini “ Amfoang Timur “ hanya ada “Lentera”,tidak ada listrik.

Gue pernah mendengan sebuah pepatah “ Tak Kenal Maka Tak Cinta dan Tak Kenal Maka Tak Sayang”. Ya pepatah itulah yang seakan menggambarkan keadaanku saat ini. Ternyata semakin gue belajar menerima semua kekurangan yang ada disini, justru semakin membuat gue terbiasa, dan ternyata semakin sering gue menapat lentera semakin membuat gue tambah nyaman, dan gue baru sadar tenyata lentera itu indah.

Gue mulai nyaman dengan malamku yang selalu ditemani dengan biasan cahaya “lentera” yang terus menyala dengan gagahnya memecah kegelapan malam, dan selalu setia menjaggue hingga gue selasai menulis cerita ini. Dan gue berharap lentera akan selalu ada dan menyala disaat malamku mulai terasa gelap,




Pesan Dari “ TIMOR”

Pesan Dari “ TIMOR”


12 desember 2012

Pagi ini jam menunjukan tepat  pukul 04.30 wita, gue dan kedelapan teman-teman siap-siap untuk menlanjutkan perjalanan yang sempat  tertundan beberapa hari, dengan alasan kendaraan yang menuju daerah yang akan menjadi tujuan kami sedang dalam proses penyembuhan alias rusak.

Kalau dipikir-pikir menyedihkan sekali, disaat dunia sudah dihebohkan dengan berbagai transportasi serba canggih dan modern, tetapi disini justru masih ada daerah yang masih terisolir lantaran gak punya kendaraan yang cukup banyak yang masih bisa dihitung dengan jarii.. menyedihkan…..

Disaat sang surya masih tertutup kesunyian pagii, dan disaat sebagian manusia masih terlelap dalam mimpi indah mereka, gue dan teman-teman harus mempersiapkan segala sesuatu yang kami butuhkan di tempat tugas. Usai mempersiapkan semua barang-barang dan setelah yakin bahwa semua sudah rapih, kami berdiri sejanak untuk memanjatkan doa dan memohon perlindungan kepada Allah SWT agar perjalanan kami diberikan perlindungan dan jauh dari segala sesuatu yang menghalangi kami hingga sampai tempat tujuan. Setelah selesai berdoa satu persatu kami keluar meninggalkan kamar yang telah kami tempati selama beberapa hari, dari balik kaca gue hanya bisa menatap kamar kosong yang baru saja ditinggalakan oleh penghuninya,

Hampir satu jam lebih gue dan teman-teman terdiam di tengah-tengah halaman yang tidak seberapa luas dan ditemani angin pagi yang sangat dingin, bahkan nyaris terasa hinggga ke persendian tulang-tulang kami. Dinginya angin pagii ini sempat membuat gue berpikir sejanak mengingat kepergian teman-teman seperjuangan menuju tempat tugas meraka masih-masing.

“Sempat terlintas pertanyaan apakah setelah setahun bertugas disini kami bisa berkumpul lagi lengkap” tanpa satupun kekurangan ……????

Lamunan Gue terhenti ketika tangan salah satu teman menepuk pundak Gue, dan memberitau bahwa bis telah datang. Sebuah mini bus berwarna merah muda melaju dengan kencang, bahkan sangking kencangnya sampai melewati kami yang sudah sejak tadi mananti kadatangannya.

Sempat terjadi percakapan diantara kami, akan tetapi dari semua percakapan itu hanya sebagian kecil saja yang bisa Gue pahami. Selain menggunakan bahasa daerah meraka juga berbicara terlalu cepat. Dari beberpa percakapan itu hanya yang bisa Gue pahami adalah

“ Ini Pak Dong yang Mau pi Ke Amfoang timur Ko??????

Kira-kira seperti itu yang gue dengar. Sebelum kami naik ke atas mobil, kami saling berjabat tangan terlebih dahulu dengan para penjaga wisma seakan mamberikan isyarat bahwa kami harus pergi meninggalkan mereka. Raut kesedihan makin terpancar jelas dari wajah penjaga wisma, maklumlah sudah beberapa hari kami terus berkomunikasi dengan mereka, jadi wajar saja kalau rasa kekeluargaan juga semakin erat.

Usai berpamitan satu persatu kami naik kedalam mobil, dan duduk di tempat yang telah disiapkan oleh pak supir, ya tentunya tempat duduk tersebut berdasarkan pesanan kami. Dari dalam mobil terlihat jelas suasana sunyi, sepi, yang ada hanya dedaunan yang berjatuhan ke atas tanah becek serta sisa genangan air hujan. Mobil kami perlahan meninggalkan wisma menelusuri jalan aspal yang sempit memecah kesunyian suasana pagi.

Awalnya Gue jijik banget melihat isi mobil yang kotor, kumuh, dekil, bahkan tak jarang mata Gue melihat pemandangan yang bisa membuat semua isi perut Gue keluar. Ya wajar jika Gue merasa jijik, karna selama ini Gue belum pernah melihat pemandangan seperti itu di dalam sebuah angkutan. Karena setahu Gue mobil itu pasti rapih, bersih, bahkan tak jarang setiap sudut pasti dipasang pengharum yang bisa membuat penumpangnya merasa nyaman.

Seiring dengan berputarnya roda mobil yang semakin jauh meninggalkan wisma tempat penampungan semua peserta SM-3T, Gue pun semakin bisa menerima semua keadaan yang ada di dalam mobil. Meskipun Gue harus mencium bau kringat, dan bahkan yang cukup menarik perhatian Gue ketika malihat hampir semua penumpang (Kecuali Kami) mengunyah “Sirih Pinang” yang membuat bibir mereka seolah-olah mengeluarkan darah, justru semakin membuat Gue makin Enjoy, apalagi sejak kami duduk sampai mobil yang kami tumpangi terus melaju semua penumpang yang ada didalam mobil tak henti-hentinya berbicara dan terus menjelaslkan semua yang kami tanyakan kepada mereka.

Dari obrolan kami ada satu hal yang membuat Gue tenang. Jujur sebelum Gue berangkat kesini “ Kupang” Gue selalu mendengar cerita-cerita orang, bahwa masyarakat di timur itu terkanal kasar2 dan menakutkan. Akan tetapi semakin lama kami terlibat percakapan Gue merasa apa yang diceritakan orang2  itu tidak benar. Justru yang ada Gue bisa merasakan betapa ramah-tamahnya mereka, bahkan terkadang mereka membuat kami tertawa lepas.

Langit semakin cerah, matahari sudah mulai meninggi dan roda mobil kami terus melaju, melintasi jalan yang cukup terjal, membawa jiwa kami ketempat tugas kami. Melewati satu demi satu kampung yang cukup memprihatinkan, selain terkesan kumuh dan kurang terawatt, kampung2 itu seperti menggambarkan betapa susahnya “Masyarakat Timor”. Keceriaan dan tawa riang yang baru saja Gue rasakan, kini seolah berbanding terbalik disaat sepasang mata ini menyaksikan pemandangan dari balik kaca mobil, meskipun kaca mobil yang Gue tumpangi cukup gelap, tapi Gue bisa melihat dengan jelas karena jaraknya tak begitu jauh dari mobil kami.

Perkampungan yang Gue lewati benar2 berbeda, dan gak pernah Gue lihat selama ini, hampir sepanjang perjalanan Gue melihat rumah2 penduduk yang cukup memprihatinkan, selain terbuat dari dinding bamboo mereka juga menggunakan atap dari daun lontar. Gue bisa merasakan betapa sengsaranya mereka hidup di Negara yang terkenal “Makmur” dan “Kaya” tapi masih banyak Masyarakatnya yang hidup memprihatinkan. Rasanya air mata ini tak bisa terbendung lagi, rasanya Gue ingin teriak biar para penghuni langit tahu betapa “Miskinnya” Masyarakat Timor.

Entah sampai kapan laju kendaraan ini akan berhenti, rasanya tak kuat bila berlama-lama menyaksikan dan melihat semua pemandangan yang begitu memilukan di sepanjang jalan yang Gue lewati. Hampir delapan jam mobil yang Gue dan Teman2 tumpangi menerobos jalan berbatu dan menelusuri bukit gersang serta puluhan sungai tanpa jembatan yang cukup mengerikan.

Semakin jauh kami meninggalkan “Kota Kupang” semakin berat rasanya perjalanan yang akan Gue lalui, apalagi sepanjang perjalanan yang kami lewati hampir semuanya rusak parah hingga tubuh Gue yang tak seberapa gemuk ini terasa begitu sakit karena tergunjang disaat kendaraan kami melewati jalan yang berlubang.

Sepertinya, selama ini wilayah timor memang jarang tersentuh pembangunan. Sepanjang perjalanan yang Gue lihat hanyalah pembangunan di era-pemerintahan sebelum “Reformasi”. Setidaknya itu yang Gue lihat dari prasasti2 yang  yang tertera disisi jalan yang Gue lewati. Prasati2 itu telihat sangat pudar dimakan usia dan menandakan bahwa sudah cukup lama terpasang. Walaupun ada sebagian yang baru dibangun, tetapi jumlahnya tak seberapa dengan yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Hampir semua daerah yang Gue lewati, merupakan daerah yang bisa dikatakan tertinggal, dan minim sekali dengan fasilitas umum, jalan rusak, puluhan sungai tak berjembatan, komunikasi sulit, dan bahkan yang menyedihkan lagi disaat pemerintah gencar2nya membicarakan pembangunan yang merata, justru disini belum merasakan cahaya lampu yang terang menerang layaknya daerah2 lain, mereka masih dibiarkan hidup dalam kegelapan.


“Apa yang sebenarnya terjadi pada NEGERI ini, negeri yang tersohor ke penjuru dunia, karna hasil alamnya yang melimpah, mengapa pemerintah tidak adil dengan anak2 bangsa disini. Padahal mereka berhak hidup layak “LAYAKNYA PARA PENGHUNI LANGIT” yang sedang asyik berdiskusi tapi tak pernah mendapatkan hasil. Bukankan Meraka sama2 anak bangsa yang hidup dan dan tinggal di tanah Ibu Pertiwi ini..!!!!! mengapa meraka di abaikan, di telantarkan, dan dibiarkan hidup dalam serba kekurangan. Tanya Gue dalam Hati “

Setelah melewati jalan terjal dan sungai2 besar yang sewaktu-waktu bisa membinasahkan kami, tepat pukul 17.30 wita akhinya kami tiba juga di Kecamata Amfoang Timur, Gue dan temen2 disambut dengan begitu hangat dan ramah. Bahkan semua barang2 yang kami bawa diangkut oleh anak2 yang kelak akan menjadi murid2 kami menuju rumah Kepsek yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat kami berhenti.

Langit sudah mulai gelap, usai makan malam dan perkenalan dirumah Kepsek, Gue dan teman2 menuju salah satu ruangan kelas yang akan menjadi tempat tinggal sementara kami sebelum kami di pindahkan ke rumah dinas. Dengan kondisi tubuh yang letih karena menempuh perjalanan yang jauh serta melewati jalan2 terjal akhirnya kami tidur dengan beralaskan tikar yang terbuat dari daun lontar…..

“Gue berharap perjalanan ini bukanlah mimpi buruk dalam hidup Gue”





By


Hendi Riswandi Ali

Ayam Terkenal