Pages

Rabu, 04 Juli 2012

Pesan Dari “ TIMOR”



Pesan Dari “ TIMOR”


12 desember 2012

Pagi ini jam menunjukan tepat  pukul 04.30 wita, gue dan kedelapan teman-teman siap-siap untuk menlanjutkan perjalanan yang sempat  tertundan beberapa hari, dengan alasan kendaraan yang menuju daerah yang akan menjadi tujuan kami sedang dalam proses penyembuhan alias rusak.

Kalau dipikir-pikir menyedihkan sekali, disaat dunia sudah dihebohkan dengan berbagai transportasi serba canggih dan modern, tetapi disini justru masih ada daerah yang masih terisolir lantaran gak punya kendaraan yang cukup banyak yang masih bisa dihitung dengan jarii.. menyedihkan…..

Disaat sang surya masih tertutup kesunyian pagii, dan disaat sebagian manusia masih terlelap dalam mimpi indah mereka, gue dan teman-teman harus mempersiapkan segala sesuatu yang kami butuhkan di tempat tugas. Usai mempersiapkan semua barang-barang dan setelah yakin bahwa semua sudah rapih, kami berdiri sejanak untuk memanjatkan doa dan memohon perlindungan kepada Allah SWT agar perjalanan kami diberikan perlindungan dan jauh dari segala sesuatu yang menghalangi kami hingga sampai tempat tujuan. Setelah selesai berdoa satu persatu kami keluar meninggalkan kamar yang telah kami tempati selama beberapa hari, dari balik kaca gue hanya bisa menatap kamar kosong yang baru saja ditinggalakan oleh penghuninya,

Hampir satu jam lebih gue dan teman-teman terdiam di tengah-tengah halaman yang tidak seberapa luas dan ditemani angin pagi yang sangat dingin, bahkan nyaris terasa hinggga ke persendian tulang-tulang kami. Dinginya angin pagii ini sempat membuat gue berpikir sejanak mengingat kepergian teman-teman seperjuangan menuju tempat tugas meraka masih-masing.

“Sempat terlintas pertanyaan apakah setelah setahun bertugas disini kami bisa berkumpul lagi lengkap” tanpa satupun kekurangan ……????

Lamunan Gue terhenti ketika tangan salah satu teman menepuk pundak Gue, dan memberitau bahwa bis telah datang. Sebuah mini bus berwarna merah muda melaju dengan kencang, bahkan sangking kencangnya sampai melewati kami yang sudah sejak tadi mananti kadatangannya.

Sempat terjadi percakapan diantara kami, akan tetapi dari semua percakapan itu hanya sebagian kecil saja yang bisa Gue pahami. Selain menggunakan bahasa daerah meraka juga berbicara terlalu cepat. Dari beberpa percakapan itu hanya yang bisa Gue pahami adalah

“ Ini Pak Dong yang Mau pi Ke Amfoang timur Ko??????

Kira-kira seperti itu yang gue dengar. Sebelum kami naik ke atas mobil, kami saling berjabat tangan terlebih dahulu dengan para penjaga wisma seakan mamberikan isyarat bahwa kami harus pergi meninggalkan mereka. Raut kesedihan makin terpancar jelas dari wajah penjaga wisma, maklumlah sudah beberapa hari kami terus berkomunikasi dengan mereka, jadi wajar saja kalau rasa kekeluargaan juga semakin erat.

Usai berpamitan satu persatu kami naik kedalam mobil, dan duduk di tempat yang telah disiapkan oleh pak supir, ya tentunya tempat duduk tersebut berdasarkan pesanan kami. Dari dalam mobil terlihat jelas suasana sunyi, sepi, yang ada hanya dedaunan yang berjatuhan ke atas tanah becek serta sisa genangan air hujan. Mobil kami perlahan meninggalkan wisma menelusuri jalan aspal yang sempit memecah kesunyian suasana pagi.

Awalnya Gue jijik banget melihat isi mobil yang kotor, kumuh, dekil, bahkan tak jarang mata Gue melihat pemandangan yang bisa membuat semua isi perut Gue keluar. Ya wajar jika Gue merasa jijik, karna selama ini Gue belum pernah melihat pemandangan seperti itu di dalam sebuah angkutan. Karena setahu Gue mobil itu pasti rapih, bersih, bahkan tak jarang setiap sudut pasti dipasang pengharum yang bisa membuat penumpangnya merasa nyaman.

Seiring dengan berputarnya roda mobil yang semakin jauh meninggalkan wisma tempat penampungan semua peserta SM-3T, Gue pun semakin bisa menerima semua keadaan yang ada di dalam mobil. Meskipun Gue harus mencium bau kringat, dan bahkan yang cukup menarik perhatian Gue ketika malihat hampir semua penumpang (Kecuali Kami) mengunyah “Sirih Pinang” yang membuat bibir mereka seolah-olah mengeluarkan darah, justru semakin membuat Gue makin Enjoy, apalagi sejak kami duduk sampai mobil yang kami tumpangi terus melaju semua penumpang yang ada didalam mobil tak henti-hentinya berbicara dan terus menjelaslkan semua yang kami tanyakan kepada mereka.

Dari obrolan kami ada satu hal yang membuat Gue tenang. Jujur sebelum Gue berangkat kesini “ Kupang” Gue selalu mendengar cerita-cerita orang, bahwa masyarakat di timur itu terkanal kasar2 dan menakutkan. Akan tetapi semakin lama kami terlibat percakapan Gue merasa apa yang diceritakan orang2  itu tidak benar. Justru yang ada Gue bisa merasakan betapa ramah-tamahnya mereka, bahkan terkadang mereka membuat kami tertawa lepas.

Langit semakin cerah, matahari sudah mulai meninggi dan roda mobil kami terus melaju, melintasi jalan yang cukup terjal, membawa jiwa kami ketempat tugas kami. Melewati satu demi satu kampung yang cukup memprihatinkan, selain terkesan kumuh dan kurang terawatt, kampung2 itu seperti menggambarkan betapa susahnya “Masyarakat Timor”. Keceriaan dan tawa riang yang baru saja Gue rasakan, kini seolah berbanding terbalik disaat sepasang mata ini menyaksikan pemandangan dari balik kaca mobil, meskipun kaca mobil yang Gue tumpangi cukup gelap, tapi Gue bisa melihat dengan jelas karena jaraknya tak begitu jauh dari mobil kami.

Perkampungan yang Gue lewati benar2 berbeda, dan gak pernah Gue lihat selama ini, hampir sepanjang perjalanan Gue melihat rumah2 penduduk yang cukup memprihatinkan, selain terbuat dari dinding bamboo mereka juga menggunakan atap dari daun lontar. Gue bisa merasakan betapa sengsaranya mereka hidup di Negara yang terkenal “Makmur” dan “Kaya” tapi masih banyak Masyarakatnya yang hidup memprihatinkan. Rasanya air mata ini tak bisa terbendung lagi, rasanya Gue ingin teriak biar para penghuni langit tahu betapa “Miskinnya” Masyarakat Timor.

Entah sampai kapan laju kendaraan ini akan berhenti, rasanya tak kuat bila berlama-lama menyaksikan dan melihat semua pemandangan yang begitu memilukan di sepanjang jalan yang Gue lewati. Hampir delapan jam mobil yang Gue dan Teman2 tumpangi menerobos jalan berbatu dan menelusuri bukit gersang serta puluhan sungai tanpa jembatan yang cukup mengerikan.

Semakin jauh kami meninggalkan “Kota Kupang” semakin berat rasanya perjalanan yang akan Gue lalui, apalagi sepanjang perjalanan yang kami lewati hampir semuanya rusak parah hingga tubuh Gue yang tak seberapa gemuk ini terasa begitu sakit karena tergunjang disaat kendaraan kami melewati jalan yang berlubang.

Sepertinya, selama ini wilayah timor memang jarang tersentuh pembangunan. Sepanjang perjalanan yang Gue lihat hanyalah pembangunan di era-pemerintahan sebelum “Reformasi”. Setidaknya itu yang Gue lihat dari prasasti2 yang  yang tertera disisi jalan yang Gue lewati. Prasati2 itu telihat sangat pudar dimakan usia dan menandakan bahwa sudah cukup lama terpasang. Walaupun ada sebagian yang baru dibangun, tetapi jumlahnya tak seberapa dengan yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Hampir semua daerah yang Gue lewati, merupakan daerah yang bisa dikatakan tertinggal, dan minim sekali dengan fasilitas umum, jalan rusak, puluhan sungai tak berjembatan, komunikasi sulit, dan bahkan yang menyedihkan lagi disaat pemerintah gencar2nya membicarakan pembangunan yang merata, justru disini belum merasakan cahaya lampu yang terang menerang layaknya daerah2 lain, mereka masih dibiarkan hidup dalam kegelapan.


“Apa yang sebenarnya terjadi pada NEGERI ini, negeri yang tersohor ke penjuru dunia, karna hasil alamnya yang melimpah, mengapa pemerintah tidak adil dengan anak2 bangsa disini. Padahal mereka berhak hidup layak “LAYAKNYA PARA PENGHUNI LANGIT” yang sedang asyik berdiskusi tapi tak pernah mendapatkan hasil. Bukankan Meraka sama2 anak bangsa yang hidup dan dan tinggal di tanah Ibu Pertiwi ini..!!!!! mengapa meraka di abaikan, di telantarkan, dan dibiarkan hidup dalam serba kekurangan. Tanya Gue dalam Hati “

Setelah melewati jalan terjal dan sungai2 besar yang sewaktu-waktu bisa membinasahkan kami, tepat pukul 17.30 wita akhinya kami tiba juga di Kecamata Amfoang Timur, Gue dan temen2 disambut dengan begitu hangat dan ramah. Bahkan semua barang2 yang kami bawa diangkut oleh anak2 yang kelak akan menjadi murid2 kami menuju rumah Kepsek yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat kami berhenti.

Langit sudah mulai gelap, usai makan malam dan perkenalan dirumah Kepsek, Gue dan teman2 menuju salah satu ruangan kelas yang akan menjadi tempat tinggal sementara kami sebelum kami di pindahkan ke rumah dinas. Dengan kondisi tubuh yang letih karena menempuh perjalanan yang jauh serta melewati jalan2 terjal akhirnya kami tidur dengan beralaskan tikar yang terbuat dari daun lontar…..

“Gue berharap perjalanan ini bukanlah mimpi buruk dalam hidup Gue”





By


Hendi Riswandi Ali
                    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayam Terkenal