Pages

Rabu, 04 Juli 2012

“Tak se- Hitam Kulitnya”

“Tak se- Hitam Kulitnya”

Selasa, 20 Maret 2012

Pagii ini kabut mendung dan udara dingin serta ditambah angin yang bertiup cukup kencang masih setia menyelimuti hampir sebagian besar wilayah amfoang timur. Sesuai dengan kesepakatan yang telah kami * P3K * buat tentang daftar kerja dan belanja, maka hari ini yang mendapatkan tugas untuk belanja kebutuhan kami selama satu minggu adalah Gwe dan Putu.

Rintik air hujan yang turun dari langiit mendung  dan angin yang super dingin khas kawasan sabana tak mambuat langkan Gwe berhenti, jengkal demi jengkal langkah kaki Gwe menelusuri jalan setapak penuh dengan rumput hijau yang semakin tinggi karena tersiram air hujan, menuju sebuah rumah yang taj begitu jauh dari rumah dinas kami.

Langkah kaki Gwe mulai terhenti, ketika gwe mamasuki pintu rumah yang terbuka lebar tapi tak terlihat satu orangpun didalamnya.
^ Om Sam….. Om Sammy……
^ Oei, Apa mas Hen, jawab seseorang dari balik horden kamar..
^ Saya mau penjam motor, Bisa Ko Sonde pa.. Jawab Gwe dengan Bahasa Daerah yang pas-pasan
^ Oke Bawa Sa….

Usai meminjam motor milik pegawai Kecamatan, Gwe bergegas menuju rumah dinas sambil mendorong motor yang sejak tadi tidak bisa hidup.. selang beberapa menit kemudian, setelah berjuang sekuat tenaga menghidupkan motor, dan  berkat rayuan maut Putu akhirnya motor bisa menyala juga. Seakan tak ingin membuang2 waktu Gwe dan Putu langsung tancap gas menuju Pasar Oefoli, sebuah pasar yang terletak di daerah perbatasan dan hanya buka seminggu sekali, atau lebih tepatnya hanya buka setiap hari selalsa.

Perjalanan kepasar kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya, selain karena cuaca uang kurang mendukung, Gwe dan Putu juga menemukan banyak kendala. Dengan mengendarai motor Kawasaki berwarna hitam kami menerobos jalan2 berlumpur yang tak jarang harus mamaksa kami untuk turun dan mendorong motor. Bahkan kami sempat berhenti sejenak ketika motor yang kami kendarai tak mampu melewati derasnya sungai yang melintas tepat di tengah- tengah jalan yang akan kami lewati.

Selain arusnya yang cukup deras, aliran air sungai ini juga membawa bongkahan-bongkohan batu yang lumayan besar, bisa membuat orang pingsan, dan sewaktu-waktu dapat membuat ban motor kami tergelincir. Meskipun kami harus dipasak turun dan memdorong motor agar sampai diseberang, tapi kami mendapatkan banyak pelajaran dan bisa melihat secara langsung betapa baiknya orang timor.

Gwe dan Putu sempat berhenti di sungai ini, selain karna motor kami tak mampu menerobos desarnya air sungai, salah satu sendal milik Putu terlepas dan hanyut terbawa arus sungai. Gwe sendiripun sudah berusaha untuk mengejar, tapi karna arus airnya yang deras maka Gwe biarkan saja sendal itu hanyut.

Disaat Gwe dan Putu sudah pasrah dan merelakan sedal itu hanyut, tapi dari tepi sungai terlihat seorang bocah laki-laki berkulit hitam dan berambut kriting serta berpakaian Putih Merah ( Seragam SD) berlari dengan cepat menantang arus sungai hanya mengejar sendal yang tak seberapa harganya jika dibandingkan dengan nyawanya. Hanya untuk kami, Orang Asing yang baru beberapa bulan tinggal di daerah Mereka “ Amfoang Timur”.

Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja Gwe dan Putu Saksikan, Kami hanya terdiam dan benar2 tak bisa berkata apa-apa melihat pengorbanannya yang rela basah-basahan manantang derasnya arus sungai serta tejamnya bongkahan-bongkaghan batu yang setiap saat bisa melukai tubuhnya yang tak seberapa tangguh.

Seiring berputarnya roda motor, Gwe berpikir tentang apa yang baru saja Gwe saksikan tadi. Seorang anak yang rela mengorbankan nyawanya hanya demi sendal yang tak seberapa harganya untuk orang yang baru dikenal. Sungguh hal yang sangat-sangat jarang Gwe temui di tempat lain. Dan gwe yakin gag bakal bisa ketemu lagi dengan anak seperti itu di tempat lain.

Dengan pakaian yang lembab karna tesiram air hujan dan kaki kotor terkena lumpur, akhirnya Gwe dan Putu tiba di Pasar Oefoli, kami disambut dengan suasana sepi, tak seperti hari-hari biasanya. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah tenda-tenda yang bisa bisa dihitung dengan jari saja yang baru buka dan memajangkan jualannya, serta dijaga ketak oleh anjing2 yang berpatroli sana-sini…

Setelah selesai belanja kebutuhan mingguan kami, Gwe dan Putu meninggalkan pasa dengan membawa barang-barang yang nyaris membuiat punggung dan tangan Gwe lepas, belum lagi ditambah kondisi jalan yang becek, berlumpur yang amat sangat memacu adrenalir. Dengan penuh kehati-hatian satu demi satu jalan berlubang seperti kolam lumpur berhasil kami lalui dengan selamat. Walaupun terkadang sedikit dibumbui dengan teriakan seksi yang keluar dari mulut Gwe dan Putu.. WkWkwwkwkwk….

Meskipun kami berhasil melewati jalan becek berlumpur dengan selamat, akan tetapi untuk yang kedua kalinya, roda dan mesin motor kami terpaksa berhenti di tengah-tengah sungai. Kali ini bukan karena dihadang bongkahan batu, tapi karna rantai motor kami tinba-tiba lepas, ya mungkin karna terlalu banyak beban jadi motornya ngambek… dengan barang bawaan yang super numpuk gwe dipaksa turun dari motor dan berjalan menuju seberang, sunggu sesuatu hal yang kurang mengenakan buat Gwe.

Baru saja kaki Gwe menapak di salah satu bongkahan batu yang sangat besar dan meletakan barang bawaan Gwe lagi-lagi Putu teriak kehebohan gara-gara sendalnya hanyut.. berhubung sendalnya bisa Gwe jangkau jadi Gwe lagi mengejar sendal Putu. Sungguh suatu yang tak terpikirkan disaat sendal itu pas lewat di depan mata gwe dan tinggal sejengkal lagii tiba-tiba sendal Gwe juga gag mau kalah eksis, sendal gwe ikut-itukan hanyut terjun bebas mengarungi derasnya air sungai.

^  Ya sendal Gwe juga hanyut Tu, Teriak gwe dengan suara pasrah
^ yaudah biarin aja, mungkin buka Jodo, jawab Putu dengan Sok Iklas…
^ tapii saying, sendalnya masih baruu.. eman-eman….
^ Mau gmana lagii, daripada lo ikut hanyut…

Meskipun dengan amat sangat berat  hati mengiklaskan sendal yang baru saja Gwe bili, selain masih baru dab bagus, serta bisa bertahan setahun kan eman-eman bisa hemat.. piker Gwe dalam hatii.., mungkin tuhan emang lagii baik ma Gwe dan mungkin juga karna tuhan tau gwe gag iklas merelakan sendal Gwe hanyut gitu aja, tiba- tiba dari samping gwe meluncur seorang lekaki tua, berjenggot putih berlari dengan penuh semangat memecah derasnya arus sungai. Dengan semangat yang berapi-api akhirnya sendal Gwe dan Putu berhasil diselamatkan oleh seorang kakek yang sudah tua..
Gwe seakan menyaksikan sebuah Film Kolosal yang melihat adegan seseorang yang sedang melintas di atas air tanpa pemeran pembantu, sungguh pemandangan yang original. Dengan sedikit rasa malu usai menerima sendal dari kakek tangguh, dengan kaki yang sedikit sempoyongan Gwe jalan menghampiri Putu yang sedang berusaha memperbaiki rantai motor.

^ Waaah, Gw gag enak banget sama Kakek itu, Ucap Putu dengan wajah melasnya..
^ Iya, Salut Gwe Putu, Semangat banget dia Gwe gag bisa bayangin klo tadi dia jatuh gimana?
^ Baik Banget yah. Jawab Putu dengan perasaan bersalahnya..
^ Iya ternyata orang disini baik-baik, mereka rela basah2an bahkan gag takut terluka untuk menolong kita.
Begitulah percakapan singkat antara Gwe dan Putu setelah ditolong oleh kakek tangguh yang baik hati..

Ya, lagi-lagi Gwe harus mengakui ternyata “ Orang Timor” itu tak sekasar dan seburuk yang orang bilang, karna sampai saat ini Gwe belum melihat kebenaran atas apa yang di ceritakan orang-orang. Bahkan menurut Gwe mereka justru baik-baik, ramah, bahkan tak jarang kami selalu dibuat nyaman dan tertawa dengan cara humor mereka.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayam Terkenal