Lentera
Untuk “Langit”
13, Maret 2012
Disaat
gue akan menulis sebuah cerita, gue merasa bingunng, entah cerita apa yang
ingin gue tulis, karena gue sendiri seorang pemula yang sedang belajar menulis
makanya agak sedikit pusing mengatur bahasa yang baik serta judul yang menarik
minat pembaca. Hampir satu jam gue terdiam di bawah “Pohon Cinta” sambil
menatap langit yang penuh dengan biasan
cahaya bintang yang seakan menambah keanggunan sang dewi bulan. Meskipun langit
malam ini dihiasi jutaan bintang, tapi tak sedikitpun diantara bintang-bintang
itu memberiku inspirasi, meraka hanya diam. Angin malam yang mulai terasa
dingin hingga menembus pesensianku, akhirnya memaksa gue untuk meninggalkan
“Pohon Cinta”. Perlahan gue langkahkan kakiku meninggalkan “ Pohon Cinta” tanpa
menulis satu kalimatpun dan segera menyusul teman-temanku yang sudah sejak tadi
terlelap tidur.
Selang
beberapa menit, gue sampai didalam rumah, dalam kegelapan malam tak satupun gue
melihat adanya tanda-tanda kehidupan semuanya hening, sunyi, yang terlihat
masih setia menjaga ruangan kosong hanyalah sebuah lentera yang nyaris padam
kerena kekurangan minyak dan tertiup oleh angin. Gue berjalan mendekati lentera
yang mulai redup, dengan penuh kehati-hatian gue berjalan membawa lentera ke
tempat botol minyak, dengan sabar gue mulai menuangkan minyak ke dalam lentera,
dan tak lama kemudian lentera mulai mambesar, bahkan dengan gagahnya dia
berkobar melawan kuatnya angin malam.
Dengan
tatapan kosong gue menatap lentera, dan tanpa gue sadari saraf-saraf otakku
mulai bekerja dan seakan membisikanku untuk segera melanjutkan kembali cerita
yang pernah gue buat sebelumnya (baca Langit Tak Boleh Gelap), dengan ditemani
sebuah lentera gue mulai menjalankan ujung pulpen untuk memulai menulis, ya
kali ini gue akan menulis sebuah cerita “ Lentera Untuk Langit “
Lentera…???
Mungkin di zaman sekarang yang menurut sebagian besar orang zaman modern, zaman
yang serba canggih, zaman dimana orang-orang sudah hidup dan terbiasa dengan
barbagai fasilitas yang serba modern, dan sudah tidak tau lagi apa itu “
Lentera”.
Lentera
adalah sebuah penerangan sederhana namun mampu memberikan cahaya kehidupan
disaat gue barada dalam kegelapan malam. Lentera menjadi teman terbaik gue dan
teman-temanku saat ini, dimana gue dan teman-temanku sedang memulai suatu
cerita perjalanan hidup kami sebagai “Guru Kontrak SM-3T”.
Mungkin
terdengar sederhana, tapi itulah kenyataannya. Meskipun gue dan teman-temanku
hidup di zaman serba canggih, tetapi
kami masih bias merasakan betapa berhargannya sebuah “Lentera”. Lentera memberikan banyak sekali pelajaran hidup yang
gue dapatkan saat ini, karena lentera itu laksana teman yang selalu menemaniku
disaat gue mulai membenci malam. Walaupun dulu lentera hanyalah sebuah benda
yang tak berguna atau bahkan hanya merupakan sebuah pelarian disaat lampu
listrik rumahku padam. Tapi kini semuanya sudah berbeda, gue yang dulu
memandang lentera hanya sebelah mata sekarang sudah mulai menghargai betapa
berharganya sebuah lentara.
Meskipun
sinarnya tak seberapa terang, tetapi kobaran api yang dipancarkannya seolah
menjadi api yang mampu mengobarkan semangatku untuk melewati setiap langkah
hidupku dalam menyelusuri kehidupan yang terasa cukup berat.
Malam-malamku
saat ini sudah tak seperti dulu lagi, dimana dulu gue slalu menghabiskan malam
dengan gemerlap lampu yang begitu terang-menerang hamper disetiap sudut ruangan
rumahku, ataupun ditempat-tempat gue biasa menghabiskan waktu malamku bersama
teman-temanku.
Malamku
kini seakan terbalik 1800 , kini hampir sebagian besar malamku hanya
ditemani sebuah “Lentera” yang sangat sederhana, namun begitu setia manjaga
malamku dengan biasan cahayannya yang tak begitu terang.
Awalnya
gue merasa jenuh, bosan dengan malamku yang sekarang dan bahkan gue sendiri
terkadang merasa tak yakin bias bertahan disini “Amfoang Timur” dengan suasana
malam yang jauh dari keramaian, serta serba kekurangan berbagai macam
fasilitas. Bahkan untuk sekedar komunikasi saja susah sekali untuk mendapatkan
signal, apalagi untuk mangakses internet, tetapi inilah malamku. Malam yang
harus gue lewati meskipun hanya ditemani oleh sebuah lentera.
Walaupun
cukup sulit bagiku menerima segala keterbatasan ini, tapi gue berusaha belajar
bersyukur. Anggap saja ini sebuah anugrah yang diberikan tuhan agar gue bias
menghargai arti sebuah kehidupan dan terpenting arti sebuah “Lentera”.
Tanpa
terasa sudah satu bulan lebih, gue dan teman-temanku (Peserta SM3T) berada di
sini “Amfoang Timur” itu berarti tinggal kurang lebih sebelas bulan lagi kami
akan pulung dan meninggalkan semua kenangan yang pernah kami lalui. Dan hampir
stiap malam kami selalu ditemani “Lentera”, yak arena disini “ Amfoang Timur “
hanya ada “Lentera”,tidak ada listrik.
Gue
pernah mendengan sebuah pepatah “ Tak Kenal Maka Tak Cinta dan Tak Kenal Maka
Tak Sayang”. Ya pepatah itulah yang seakan menggambarkan keadaanku saat ini.
Ternyata semakin gue belajar menerima semua kekurangan yang ada disini, justru
semakin membuat gue terbiasa, dan ternyata semakin sering gue menapat lentera
semakin membuat gue tambah nyaman, dan gue baru sadar tenyata lentera itu
indah.
Gue
mulai nyaman dengan malamku yang selalu ditemani dengan biasan cahaya “lentera”
yang terus menyala dengan gagahnya memecah kegelapan malam, dan selalu setia
menjaggue hingga gue selasai menulis cerita ini. Dan gue berharap lentera akan
selalu ada dan menyala disaat malamku mulai terasa gelap,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar