Pages

Rabu, 04 Juli 2012

Lentera Untuk “Langit”


Lentera Untuk Langit”

13, Maret 2012

Disaat gue akan menulis sebuah cerita, gue merasa bingunng, entah cerita apa yang ingin gue tulis, karena gue sendiri seorang pemula yang sedang belajar menulis makanya agak sedikit pusing mengatur bahasa yang baik serta judul yang menarik minat pembaca. Hampir satu jam gue terdiam di bawah “Pohon Cinta” sambil menatap langit  yang penuh dengan biasan cahaya bintang yang seakan menambah keanggunan sang dewi bulan. Meskipun langit malam ini dihiasi jutaan bintang, tapi tak sedikitpun diantara bintang-bintang itu memberiku inspirasi, meraka hanya diam. Angin malam yang mulai terasa dingin hingga menembus pesensianku, akhirnya memaksa gue untuk meninggalkan “Pohon Cinta”. Perlahan gue langkahkan kakiku meninggalkan “ Pohon Cinta” tanpa menulis satu kalimatpun dan segera menyusul teman-temanku yang sudah sejak tadi terlelap tidur.

Selang beberapa menit, gue sampai didalam rumah, dalam kegelapan malam tak satupun gue melihat adanya tanda-tanda kehidupan semuanya hening, sunyi, yang terlihat masih setia menjaga ruangan kosong hanyalah sebuah lentera yang nyaris padam kerena kekurangan minyak dan tertiup oleh angin. Gue berjalan mendekati lentera yang mulai redup, dengan penuh kehati-hatian gue berjalan membawa lentera ke tempat botol minyak, dengan sabar gue mulai menuangkan minyak ke dalam lentera, dan tak lama kemudian lentera mulai mambesar, bahkan dengan gagahnya dia berkobar melawan kuatnya angin malam.

Dengan tatapan kosong gue menatap lentera, dan tanpa gue sadari saraf-saraf otakku mulai bekerja dan seakan membisikanku untuk segera melanjutkan kembali cerita yang pernah gue buat sebelumnya (baca Langit Tak Boleh Gelap), dengan ditemani sebuah lentera gue mulai menjalankan ujung pulpen untuk memulai menulis, ya kali ini gue akan menulis sebuah cerita “ Lentera Untuk Langit “
Lentera…??? Mungkin di zaman sekarang yang menurut sebagian besar orang zaman modern, zaman yang serba canggih, zaman dimana orang-orang sudah hidup dan terbiasa dengan barbagai fasilitas yang serba modern, dan sudah tidak tau lagi apa itu “ Lentera”.

Lentera adalah sebuah penerangan sederhana namun mampu memberikan cahaya kehidupan disaat gue barada dalam kegelapan malam. Lentera menjadi teman terbaik gue dan teman-temanku saat ini, dimana gue dan teman-temanku sedang memulai suatu cerita perjalanan hidup kami sebagai “Guru Kontrak SM-3T”.

Mungkin terdengar sederhana, tapi itulah kenyataannya. Meskipun gue dan teman-temanku hidup di zaman serba  canggih, tetapi kami masih bias merasakan betapa berhargannya sebuah “Lentera”. Lentera  memberikan banyak sekali pelajaran hidup yang gue dapatkan saat ini, karena lentera itu laksana teman yang selalu menemaniku disaat gue mulai membenci malam. Walaupun dulu lentera hanyalah sebuah benda yang tak berguna atau bahkan hanya merupakan sebuah pelarian disaat lampu listrik rumahku padam. Tapi kini semuanya sudah berbeda, gue yang dulu memandang lentera hanya sebelah mata sekarang sudah mulai menghargai betapa berharganya sebuah lentara.

Meskipun sinarnya tak seberapa terang, tetapi kobaran api yang dipancarkannya seolah menjadi api yang mampu mengobarkan semangatku untuk melewati setiap langkah hidupku dalam menyelusuri kehidupan yang terasa cukup berat.
Malam-malamku saat ini sudah tak seperti dulu lagi, dimana dulu gue slalu menghabiskan malam dengan gemerlap lampu yang begitu terang-menerang hamper disetiap sudut ruangan rumahku, ataupun ditempat-tempat gue biasa menghabiskan waktu malamku bersama teman-temanku.

Malamku kini seakan terbalik 1800 , kini hampir sebagian besar malamku hanya ditemani sebuah “Lentera” yang sangat sederhana, namun begitu setia manjaga malamku dengan biasan cahayannya yang tak begitu terang.

Awalnya gue merasa jenuh, bosan dengan malamku yang sekarang dan bahkan gue sendiri terkadang merasa tak yakin bias bertahan disini “Amfoang Timur” dengan suasana malam yang jauh dari keramaian, serta serba kekurangan berbagai macam fasilitas. Bahkan untuk sekedar komunikasi saja susah sekali untuk mendapatkan signal, apalagi untuk mangakses internet, tetapi inilah malamku. Malam yang harus gue lewati meskipun hanya ditemani oleh sebuah lentera.

Walaupun cukup sulit bagiku menerima segala keterbatasan ini, tapi gue berusaha belajar bersyukur. Anggap saja ini sebuah anugrah yang diberikan tuhan agar gue bias menghargai arti sebuah kehidupan dan terpenting arti sebuah “Lentera”.

Tanpa terasa sudah satu bulan lebih, gue dan teman-temanku (Peserta SM3T) berada di sini “Amfoang Timur” itu berarti tinggal kurang lebih sebelas bulan lagi kami akan pulung dan meninggalkan semua kenangan yang pernah kami lalui. Dan hampir stiap malam kami selalu ditemani “Lentera”, yak arena disini “ Amfoang Timur “ hanya ada “Lentera”,tidak ada listrik.

Gue pernah mendengan sebuah pepatah “ Tak Kenal Maka Tak Cinta dan Tak Kenal Maka Tak Sayang”. Ya pepatah itulah yang seakan menggambarkan keadaanku saat ini. Ternyata semakin gue belajar menerima semua kekurangan yang ada disini, justru semakin membuat gue terbiasa, dan ternyata semakin sering gue menapat lentera semakin membuat gue tambah nyaman, dan gue baru sadar tenyata lentera itu indah.

Gue mulai nyaman dengan malamku yang selalu ditemani dengan biasan cahaya “lentera” yang terus menyala dengan gagahnya memecah kegelapan malam, dan selalu setia menjaggue hingga gue selasai menulis cerita ini. Dan gue berharap lentera akan selalu ada dan menyala disaat malamku mulai terasa gelap,




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayam Terkenal